atjeh's digest
blog hanif sofyan-sebuah catatan tentang aceh; past,now and beyond
Label
Minggu, 16 Agustus 2026
REMPAH, BEDIL DAN EMAS 1.0
Buya Krueng Teudong-dong”,
Oleh Hanif Sofyan, Pegiat Sosial, tinggal di Tanjung Selamat, Aceh Besar
https://aceh.tribunnews.com/2021/10/14/buya-krueng-teudong-dong?page=all
Membaca opini Nurchalis, Sp, M,Si, “Menghitung Pulau Banyak Effect”, (SI; 25/9/2021), mengingatkan opini penulis, “Buya Tamong Meuraseuki “(SI;4/6/2014), ketika Pemerintah Aceh mendorong Aceh Investment Promotian (AIP) I, sebuah gagasan menjadikan Aceh sebagai tujuan investasi terbaik di Indonesia. Gagasan yang sangat mengembirakan, sekaligus juga sangat menantang.
Dibutuhkan visi yang jelas, karena kita masih dihantui masalah infrastruktur pendukung investasi yang belum sepenuhnya “matang”. Seperti di sampaikan seorang analis ekonomi A. Tony Prasetiantono, bahwa buruknya infrastruktur menjadi salah satu titik lemah dalam daya saing perekonomian kita. Selain produktivitas tenaga kerja, level pendidikan, birokrasi, dan korupsi yang akut menjadi catatan yang tidak bisa diremehkan dalam euforia kita menerima investasi baru.
Setidaknya kita bisa belajar dari kasus Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong, yang kelak menjadi kota satelit Banda Aceh, karena investor yang telah masuk belum mampu kita “layani” dengan baik, termasuk dalam urusan infrastruktur. Tentu saja kita tidak bisa hanya berharap pada keperkasaan investor pariwisata Murban Energy dan Uni Emirat Arab di Singkil-Pulau Banyak , yang akan menjadi investor kita nantinya.Dari sisi geografis, Singkil, Pulau Banyak membutuhkan, setidaknya moda armada angkutan laut, pelabuhan peti kemas, infrastruktur jalan darat yang dapat menampung tonase kontainer besar yang akan hilir mudik, semua infrastruktur harus mampu menampung semua lalu lintas angkutan material yang akan masuk untuk mendukung pembangunan resor mewah seperti di Maldives atau Maladewa ataudi Dubai.
Jumat, 14 Agustus 2026
Me-”remake” Nasib Lokananta Sebagai Museum
oleh hanif sofyan-acehdigest-opini kompas
https://www.kompas.id/baca/artikel-opini/2022/03/31/me-remake-nasib-lokananta-sebagai-museum
State Phonografic Industry Ministry of Information menyimpan banyak catatan yang bisa menjelaskan Lokananta, industri awal pabrik piringan hitam sekaligus perusahaan rekaman tertua milik pemerintah kita.
Sebagaimana catatan Ayos Purwoaji dan Fakhri Zakaria, dari Rolling Stone, Lokananta juga menyingkap fakta unik tentang lagu ”Negaraku” yang kini menjadi lagu kebangsaan Malaysia. Lagu itu ternyata berasal dari gubahan lagu ”Terang Bulan” ciptaan Saiful Bahri, yang asli orang Indonesia.
Dalam arsip Lokananta, lagu berdurasi 11 menit 15 detik itu direkam di RRI Jakarta pada 1956 dan dipindahkan ke piringan hitam oleh Lokananta pada 16 Maret 1965. Penyanyinya adalah Orkes Studio Djakarta yang dipimpin oleh Saiful Bahri.
Selasa, 04 Agustus 2026
Aceh Kebudayaan Tepi Laut dan Pembangunan
https://acehdigest.blogspot.com/2013/12/ekonomi-biru-dan-laut-aceh.html
Aceh memiliki peluang dalam pembangunan kelautan dan perikanan secara lebih baik. Aceh memiliki undang-undang khusus, dimana dalam pasal 162 UU No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh mengatur mengenai kewenangan besar dalam pengelolaan sumberdaya alam di Aceh. Hal lainnya yang tidak bisa dilepaskan adalah pengaturan mengenai pemeliharaan hukum adat laut.
Senin, 03 Agustus 2026
Jejak Belanda di Aceh
https://www.lentera24.com/2014/05/jejak-belanda-di-aceh.html
Drs. Mawardi Umar, M.Hum., M.A.-Penulis adalah Ketua Jurusan Sejarah FKIP Unsyiah dan alumni Universitas Leiden BelandaACEH daerah terakhir yang ditaklukkan Belanda dalam upaya memperluas hegemoni imperialisme mereka di nusantara (Pax-Netherlanica). Penaklukan Aceh baru dilakukan pada 1873 setelah proses negosiasi untuk pengakuan kedaulatan Belanda atas wilayah Kesultanan Aceh ditolak oleh Sultan Aceh. Proses penaklukan Aceh yang awalnya diperkirakan oleh Belanda akan dapat dilakukan dengan mudah ternyata yang terjadi sebaliknya.
Ekosistem itu Bernama Kopi!
Syariat Islam di Aceh pada Abad 19,
OLEH T. A. SAKTI, Penulis hikayat dan mantan dosen Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Banda Aceh
https://aceh.tribunnews.com/2021/09/23/syariat-islam-di-aceh-pada-abad-19?page=all
Penunjukan abad ke-19 sebagai pokok kajian ini memang tidak mengalami kendala, sebab hampir semua naskah yang terpilih memang langsung menuliskan angka tahun Hijriah pada penutup naskah masing-masing. Kitab Tuhfatul Ikhwan, karya Syekh Abdussalam (kakek Teungku Chiek di Tiro Muhammad Saman, Pahlawan Nasional). Kitab ini selesai ditulis pada akhir Ramadhan tahun 1224 H. Naskah yang dapat digolongkan kepada 'hikayat tambeh' (tuntunan) ini, selain mengandung berbagai jenis nasihat, juga terselip beberapa baris syair mengenai suasana keagamaan negeri Aceh pada masa itu. Tambeh 95 (95 Tuntunan) selesai ditulis pada tahun 1242 H.
Kemiskinan Aceh dan Akses Pasar,
Oleh Reza Kamilin, Penulis adalah Camat Kuta Alam, Banda Aceh
https://aceh.tribunnews.com/2021/07/27/kemiskinan-aceh-dan-akses-pasar?page=all
Untuk mengukur kemiskinan, Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Melalui pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi yang diukur dari sisi pengeluaran. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita perbulan di bawah garis kemiskinan.











