Sejarah Rempah Nusantara, Perang Dan Perebutan Kekayaan
Indapatra, benteng kelabu seluas 4900 meter persegi, tepat berada di salah satu Jalur Rempah Nusantara di pinggir Selat Malaka. Selat paling legendaris dalam kisah kesejarahan Kerajaan Aceh Darussalam. Bandar laut Malaka sangat strategis, sehingga Tome Pires, seorang petualang dari Portugis yang menulis jurnal perjalanannya pada tahun 1515 berujar; “Semua kontak dagang antarbangsa dan segala urusan perniagaan harus dilakukan di Kota Malaka...Siapa pun yang menguasai Kota Malaka pasti bisa mengalahkan kehebatan Venesia.”
Bagi Kerajaan Aceh Darussalam, Bandar Laut Malaka kemudian menjadi sebuah titik dimulainya sejarah kejayaan Jalur Rempah Nusantara, sekaligus titik persinggungan konflik dengan Kerajaan Portugis dan Kerajaan Belanda.
Ketika Bandar Laut Malaka direbut Portugis pada pada tahun 1511, maka Pelabuhan Aceh Darussalam menggantikan posisi strategisnya karena berada dijalur yang sama, sebagai penyambung titik Jalur Rempah Dunia.
Apalagi pada abad ke 15, rempah-rempah dari Malaka, Maluku dan Banten menjadi incaran bangsa-bangsa Eropa, karena peristiwa epidemi dahsyat di Eropa, The Black Death akibat bakteri yersinia pestis dari kutu tikus membutuhkan komoditas pala dalam jumlah besar sebagai obatnya.
Disamping rempah-rempah lainnya, seperti kamper (kapur barus), kayu gaharu, kasturi dan kemenyan sebagai bahan pengawet dan bahan pewangi, sebagaimana disebut Claude Guillot, dari Ecole Francaise d’Extreme-Orient dalam buku Barus, Seribu Tahun yang Lalu, (2003).
Indrapatra adalah salah satu dari tiga titik lokus utama Kerajaan Aceh Darussalam. Benteng bekas Kerajaan Lamuri era Hindu pra Islam yang didirikan oleh Putra Raja Harsya dari India pada 604 Masehi. Titik kedua berada di Indrapurwa di Lambadeuk, Pekan Bada dan titik ketiga di Indrapuri, Aceh Besar. Gagasan tri-teritori ini mengacu pada konsep Ji’e (alat penampi beras berbentuk segitiga; dalam frasa bahasa Aceh), sebagai tiga batas utama, Segi Tiga Aceh atau Aceh Lhee Sagoe. Teritori Kerajaan Aceh Darussalam merupakan penyatuan dua kerajaan besar Darud Donya dan Darul Kamal pada abad 17 yang berbasis di Gampong Pande, Kutaraja atau Banda Aceh sekarang. Kini menjadi salah satu dari dua situs Jalur Rempah Nusantara di Aceh, Kerajaan Aceh Darussalam dan Kerajaan Samudera Pasai.




