oleh hanif sofyan-acehdigest
Selat Malaka, selat paling legendaris dalam kisah kesejarahan Kerajaan Aceh Darussalam. Bandar Laut Malaka-nya kemudian menjadi titik mula sejarah kejayaan Jalur Rempah Nusantara, sekaligus menjadi titik persinggungan konflik dengan kolonial Portugis dan Belanda. Tome Pires, seorang petualang Portugis yang menulis jurnal perjalanannya pada tahun 1515 berujar, “Semua kontak dagang antarbangsa dan segala urusan perniagaan harus dilakukan di Kota Malaka. Siapa pun yang menguasai Kota Malaka pasti bisa mengalahkan kehebatan Venesia”.
Gerbang Rempah Malaka
Benteng Indrapatra adalah sedikit dari banyak jejak situs jalur rempah di Selat Malaka, salah satu titik lokus utama Kerajaan Aceh Darussalam. Benteng bekas Kerajaan Lamuri era Hindu pra Islam didirikan oleh Putra Raja Harsya dari India pada 604 Masehi. Titik kedua berada di Indrapurwa di Lambadeuk, Pekan Bada dan titik ketiga di Indrapuri, Aceh Besar. Gagasan tri-teritori ini mengacu pada konsep Ji’e (alat penampi beras berbentuk segitiga; dalam frasa bahasa Aceh), sebagai tiga batas utama, Segi Tiga Aceh atau Aceh Lhee Sagoe. Teritori Kerajaan Aceh Darussalam merupakan penyatuan dua kerajaan besar Darud Donya dan Darul Kamal pada abad 17 yang berbasis di Gampong Pande, Kutaraja atau Banda Aceh sekarang. Kini menjadi salah satu dari dua situs Jalur Rempah Nusantara di Aceh, Kerajaan Aceh Darussalam (Banda Aceh) dan Kerajaan Samudera Pasai (Lhokseumawe).
Ketika Bandar Laut Malaka direbut Portugis pada tahun 1511, Pelabuhan Aceh Darussalam menggantikan posisi strategisnya sebagai penyambung titik Jalur Rempah Dunia. Apalagi pada abad ke-15, rempah-rempah dari Malaka, Maluku dan Banten menjadi incaran bangsa-bangsa Eropa, karena peristiwa epidemi dahsyat di Eropa, The Black Death akibat bakteri yersinia pestis dari kutu tikus, membutuhkan buah lada dalam jumlah besar sebagai penangkalnya, sebagaimana disebut Claude Guillot, dari Ecole Francaise d’Extreme-Orient dalam buku Barus, Seribu Tahun yang Lalu, (2003).
Dihitung sejak mula jatuhnya Bandar Laut Malaka (1511), 509 tahun kemudian, Jalur Rempah Nusantara dihidupkan kembali. Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Kemendikbud) memprakarsainya tahun 2020 lalu, dan mendaftarkannya sebagai Warisan Budaya Dunia (World Heritage) UNESCO pada November 2020. Jalur rempah adalah sebuah program memperkokoh posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia dan meneguhkan budaya bahari Nusantara. Jalur Rempah Aceh, adalah salah satu dari 13 titik utama jalur rempahnya. Aceh berada di ujung tombak Jalur Rempah Nusantara, yang menjadi bagian dari simpul peradaban Bahari Nusantara, jalur kebudayaan dan peradaban yang bukan sekedar sebagai akses pertukaran niaga namun juga membawa serta gagasan, pengetahuan, seni dan budaya di sepanjang rute perjalanan dari ujung paling timur kepulauan Indonesia melewati Selat Malaka sampai Afrika, Timur Tengah dan Eropa.
Melalui Festival Jalur Rempah 2021, sejak 17 Agustus 2021 hingga berakhir pada 28 Oktober 2021, akan dimulai Muhibah Budaya dengan Banda Naira sebagai titik Nol-nya, Kapal Dewa Ruci kemudian akan melabuh jangkar di kota-kota pelabuhan diberbagai wilayah Indonesia, bekas jejak rute pelayaran rempah-rempah Nusantara. Ternate, Makassar, Banjarmasin, Tanjung Uban, Belawan, Lhokseumawe, Padang, Banten, Tanjung Priuk, Semarang, Benoa hingga berakhir di Kota Surabaya, kota-kota pengingat sejarah kejayaan rempah. Gelora Festival dan Muhibah Budaya tidak hanya untuk membangkitkan kejayaan Bahari Nusantara, namun juga memompa rasa nasionalisme kita.
Pasang Surut Jalur Rempah Aceh
Tentang Selat Malaka sendiri, Daron Acemoglu dan James A.Robinson secara spesifik mengulasnya dalam The Origins of Power, Prosperity, and Poverty. Buku sejarah yang berkontribusi penting dalam menjawab perdebatan sengit tentang jatuh bangun dan kesenjangan antar wilayah dan negara yang menciptakan gap ekonomi dan politik, berlatar sejarahnya. Faktanya juga berbicara tentang runtuhnya Kerajaan Samudera Pasai, dan kemunculan Kerajaan Aceh Darussalam. Jika tidak diikuti dengan tekanan-tekanan kolonial yang ekstrim, kerajaan lama dan baru saling bertumbuh dan menggantikan, termasuk dalam kemasyhuran ekonomi seperti jamaknya sejarah biasa.
Namun daya jangkau niaga Kerajaan Aceh Darussalam yang membuana, sejak dibangun oleh Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528 Masehi) pada abad 17, hingga terkoneksi dengan wilayah perdagangan di China, India, Gujarat, Timur Tengah hingga ke Turki di wilayah Eropa, bahkan dalam duapuluh tahun gemilang, dibawah kendali Sultan Iskandar Muda, menembus jalur perdagangan Portugis, dari Selat Malaka hingga ke Teluk Persia. Panjangnya aras niaga ini pula menjadi bibit gesekan persaingan dagang, menimbulkan friksi, memancing para petualang pencari koloni daerah jajahan baru.
Daya tarik komoditas unggulan lada sebagai mata dagangan dunia yang langka dan bernilai tinggi di pasaran Eropa, makin membuat Kerajaan Aceh Darussalam menjadi incaran. Posisi strategisnya Selat Malaka, berada di gerbang pelayaran dari India dan Timur Tengah yang akan masuk ke Malaka dari China maupun Jawa. Pelabuhan Kerajaan Aceh Darussalam di Ulheleue menjadi pusat perdagangan tersibuk. Teritorinya yang strategis didukung dengan keberadaan Pulau Weh dan Pulau Nasi serta Pulau Breuh yang menjadi pelindung dari ombak besar, menjadikannya sebagai pelabuhan niaga yang aman.
Teluk Aceh memiliki tiga jalur lalu lintas kapal dagang. Jalur pertama, yaitu Terusan Surat; jalur kapal dagang menuju Gujarat. Jalur Kedua, Terusan Bengali; jalur bagi kapal dagang tujuan susuran Pantai Timur India, dan Jalur Ketiga; Selat Malaka, jalur pelayaran bagi seluruh negeri penghasil rempah-rempah Nusantara. Bahkan kejatuhan Bandar Malaka oleh Portugispun menjadi titik keunggulan baru, karena mengalihkan para pedagang Islam dari India, Gujarat, China, Turki dan Jawa, singgah ke Aceh, setelah jalur pelayaran beralih melalui sepanjang Barat Sumatera di mana Kerajaan Aceh Darussalam berada.
Bagaimana babak selanjutnya kesejarahan jalur rempah Aceh mengalami periodesasi kemunduran?. Bagaimana peran institusi ekonomi dan politik yang kuat menghadapi perang dan friksi sebagai pemicu runtuhnya kekuatan ekonomi dan hilangnya Kerajaan Aceh Darussalam, dari titik peta perdagangan dunia?. Pada akhirnya kerajaan-kerajaan di Aceh dilemahkan dengan kehadiran Belanda dalam perang berkepanjangan Belanda-Aceh, dalam 31 tahun penuh heroisme dan epik kepahlawanan (1873-1904).
Sejak kapal perang Citadel Van Antwerpen melepaskan tembakan meriam pertamanya, pada tanggal 26 Maret 1873, lalu pada tanggal 5 April 1873 mendarat di Pante Ceureumen dibawah komandan Johan Harmen Rudolf Kohler, langsung merangsek menguasai Masjid Raya Baiturrahman. Maka dimulailah periodesasi perang Belanda-Aceh yang mewakili wujud kekerasan kolonial. Perang berhenti sejenak ketika Kesultanan Aceh menyerah pada Januari 1904, namun berlanjut dengan perang gerilya hingga 1904.
Ada sebuah analisis sangat menarik dari dua pakar sejarah Daron dan James, yang terekam narasinya dalam bab sembilan, buku yang telah diterjemahkan sebagai “Mengapa Negara Gagal; Awal Mula Kekuasaan, Kemakmuran dan Kemiskinan”. Secara tajam Daron dan James menyorotinya dalam bagian, Pertumbuhan Yang Pupus Di tengah Jalan; Rempah-Rempah dan Genosida. Tentang korelasi penjajahan dan pelemahan kerajaan-kerajaan penguasa lokal, perampasan dan penguasaan mutlak rempah-rempah dan genosida yang menjadi alat penjajah melemahkan negara jajahan. Dalam dekade-dekade yang terus berlanjut, kemudian menjadi musabab terputusnya galur warisan-warisan sejarah, Jalur Rempah Nusantara.Termasuk alasan mengapa Malaka kemudian mengalami kemunduran sebagai basis pelabuhan tersibuk dan terpadat di era kerajaan Aceh Darussalam.
Sejak Ekspedisi Columbus memulai pencarian rempah dunia dan berujung pada penemuan benua Amerika di akhir abad ke-15 Masehi, dampak penemuannya adalah dimulainya eksplorasi “bahan-bahan pangan baru”. Bangsa Eropa membawa temuan bahan pangan baru dan membudidayakannya di Eropa, Afrika dan Asia. Asia Tenggara, khususnya Nusantara yang gemah ripah loh jinawi, dengan segera menjadi syurga baru, apalagi dengan tambahan sumber daya manusia yang banyak dan tentu saja gratis bagi para kolonial. Lebih dari 2.000 jenis tumbuhan ditanam di Nusantara, sekaligus menandai dimulainya era kolonialisasi dan industrialisasi dalam sejarah Indonesia.
Fakta Ini berkorelasi dengan ragam pilihan kerajaan penguasa lokal dalam mempertahankan eksistensinya sebagai pedagang rempah dunia. Beberapa kerajaan lokal yang bersinggungan langsung dengan para pesaing, sekaligus calon penjajahnya, menggunakan cara berperang untuk mempertahankan kedaulatan. Penguasa kerajaan lokal lainnya mengikat kesepakatan dengan tekanan-tekanan ala kolonial. Kerajaan lokal lain, seperti Kerajaan Maluku, bahkan secara ekstrim melakukan penghilangan basis komoditas rempah dengan menebang atau membakar agar tidak menyulut bibit pertikaian.
Konsekuensi-konsekuensi yang timbul dalam jangka panjang adalah kemunduran kerajaan sebagai pusat komoditas rempah, karena pasar komoditas dan rakyatnya dikuasai penjajah. Dari sanalah sejarah kemasyhuran perniagaan lokal dan jaring perniagaan dunia milik kerajaan-kerajaan lokal, seperti diulas Daron dan James, menemukan titik nadirnya. Mundur, berhenti, lalu colaps pada akhirnya dan meninggalkan jejak sejarah emasnya.
Sebuah Sekuel Sejarah
Dalam konteks sejarah Jalur Rempah Aceh, salah satu situsnya, Gampong Pande, kini menyisakan jejak puing-puing pertapakan permukiman kuno. Permukiman padat penduduk dengan temuan jejak 756 sebaran situs dan makam kuno serta tembikar komoditas dagangan dari India abad ke-16. Temuan sebaran uang koin emas dari Kerajaan Turki Utsmani era Selim I, Salim Sulaiman Al Qanuny dan era Selim II yang ukuran tahunnya satu era dengan Sultan Ali Mughayat Syah, Sultn Alauddin al-Qahhar dan Sultan Husain Ali Riayat Syah (Sultan keempat-1568-1571) yang sempat menghebohkan paska tsunami besar 2004 silam.
Situs purba lainnya adalah jejak struktur bangunan menara pantau. Menara pengawas jalur perdagangan di Kutaraja dan Meuraxa-pelabuhan Ulheleu, yang diduga dibangun Sultan Alaidin Al Kahar, putra Sultan Alaidin Mughayat Syah pada abad ke-17. Situs pelengkap sejarah lainnya adalah Benteng Iskandar Muda, Benteng Inong Balee sebagai bandar atau pelabuhan dan Benteng Indrapatra di kawasan, Ladong, Krueng Raya, Aceh Besar, sebagai benteng pertahanan.
Optimisme yang membuncah, dalam pencanangan kembali Jalur Rempah Nusantara diikuti dengan rangkaian program kerja dalam rencana strategis melestarikan cagar budaya. Terutama objek yang diduga sebagai situs warisan Jalur Rempah Aceh dan Sumatera Utara, dalam satu ekosistem pengelolaan, perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan. Melakukan revitalisasi pelestarian kongkrit, melalui; Pertama, kajian daerah jalur rempah Banda Aceh dan Pasee; Kedua, mendorong dirancangnya Qanun Kebudayaan; Ketiga, menjadikan Jalur Rempah sebagai tema utama dalam pelaksanaan Pekan Kebudayaan Aceh; Keempat, Menjalin kembali kemitraan dagang dengan berbagai negara yang pernah terlibat dalam jalur rempah; dan Kelima, Mensosialisasikan rempah sebagai komoditas dagang di tingkat perdagangan internasional.
Asimilasi budaya dan jalinan antarbangsa di Nusantara, dimasa lampau diantara para pedagang berperan sebagai pambangun budaya, dengan ragam perdagangan komoditi rempah dari berbagai kepulauan di Nusantara sebagai mediumnya, sehingga menjadi sebuah rute budaya. Dalam nuansa mengulang romantisme budaya niaga, kini kita menjalin kembali kerjasama multilateral, dengan banyak bangsa, dengan rempah dan pariwisata sebagai penyambung silaturahmi budaya dan kerjasama bisnisnya.
Kita harus mengubah haluan, meninggalkan pengabaian sisi sejarah dagang yang penting. Mungkin kita selama ini terlena dan menegasi nilai dan bukti kesejarahan lebih pada konteks sebagai benda-benda museum unsich. Sudah saatnya kita memulai kembali penggalian teks-teks sejarah ke-niagaan, kearifan lokal, nilai-nilai dasar niaga yang menciptakan kesuksesan di masa lalu dan menjadi pembelajaran di era kekinian, dengan situs dan artefak sebagai penguat semangatnya.
Kita bisa memulainya dari ruang diskusi kita, dari ruang belajar kita, dari pengayaan teks-teks pembelajaran praksis yang bisa menstimulasi, mendorong dan menguatkan serta menginspirasi intelektualitas dagang generasi baru kita. Romantisme sejarah, sebagai pengulangan lanjutan (sekuel), bahwa jalur rempah Nusantara dan Poros Maritim adalah warisan kejayaan bahari dengan rempah dan jalur niaga baharinya, yang membuat Nusantara di kenal dunia hingga detik ini. [hanifsofyan-acehdigest2021].
Referensi:
Claude Guillot etc, Barus Seribu Tahun Yang Lalu, Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia dan Forum Jakarta Paris, 2008
Daron Acemoglu dan James A. Robinson, "Mengapa Negara Gagal",Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty, Jakarta, Penerbit Elex Media Komputindo, 2014
https://historia.id/sains/articles/kala-black-death-hampir-memusnahkan-eropa-P4neV
https://jalurrempah.kemdikbud.go.id/budaya-rempah-merajut-nusantara-dari-masa-lalu-untuk-masa-depan/
https://jalurrempah.kemdikbud.go.id/jalur-rempah-2020-capaian-kegiatan-hingga-survei-litbang-kompas/
https://jalurrempah.kemdikbud.go.id/gerak-sigap-pemerintah-aceh-untuk-program-jalur-rempah/
https://kkp.go.id/an-component/media/upload-gambar-pendukung/DitJaskel/publikasi-materi-2/jalur_rempah
https://mediaindonesia.com/humaniora/400246/festival-jalur-rempah-siap-digelar-di-13-titik-utama-jalur-rempah
https://news.okezone.com/read/2017/06/07/340/1709550/masjid-indrapurwa-aceh-dan-riwayat-kerajaan-hindu-yang-hilang
HANIF SOFYAN
Pernah berteman dengan para jurnalis ketika mengelola Tabloid Aceh Kronika, Seulawah, Perspektif di meja redaktur bisnis, sebelum memulai perannya menjadi “supporting aktifis” seusai menyelesaikan pendidikan sarjana ekonominya di Unsyiah Banda Aceh. Berkutat terus menggeluti urusan domestik keuangan sejak 1999, dari kantor WALHI Aceh, selanjutnya melompat ke World Wide Fun for Nature (WWF) Indonesia, kantor Program Aceh, hingga 2013. Ikut membantu teman-teman memanajemeni keuangan di Jaringan Komunitas Masyarakat Adat Aceh (JKMA), Aceh Recovery Forum (ARF) dan Aceh Geothermal Forum (AGF), sebelum akhirnya menjadi penjaga gawang keuangan di Konsorsium PADHI (Padhi, Forsaka, WWF dan AEJ) hingga 2016.
Kini waktu daringnya banyak disibukkan dengan menulis buku impian; ekonomi, sosial, politik, sejarah, disertai memotret sebagai intermezo, mencari peruntungan sebagai youtuber pro pengusaha kecil-kecilan, dan merintis bisnis kuliner, bisnis franchisee berbasis sosial yang ingin digelutinya. Essay; Rempah, Bedil dan Emas adalah salah satu judul buku impiannya. Menulis dan memotret adalah dua paduan hobi yang saling melengkapi. Terutama untuk konteks Aceh yang memiliki banyak nuansa dan keindahan alam, namun juga berbalut dengan dinamika perubahan sejarah yang kadangkala manis, namun juga pahit. Maka hobinya menjadikannya terus mencari tahu dan terus membuatnya menjadi “manusia pembelajar”. Belajar dari alam nanggroe-nya sendiri, sambil menjaganya dengan cara yang berbeda, melalui narasi dan foto yang berbicara lebih dari 1000 kata.
Hanif sofyan [081264660505]
Komplek indiser, Jl Indiser Utama Blok G No. 7 Tanjung selamat Aceh Besar
Email; acehdigest@gmail.com, webblog: acehdigest.blogspot.com
Banda aceh 23373





Tidak ada komentar:
Posting Komentar