oleh hanif sofyan-opini serambi Indonesia
Minggu, 31 Maret 2013
Dalam bulan Februari-Maret ini saja, setidaknya kita disuguhi beberapa pernyataan serius terkait seks bebas. Enam warga Aceh positif HIV AIDS yang penyebab utamanya adalah seks bebas (Serambi, 28 Februari), Seks Bebas di Aceh Serius (Serambi, 4 Maret), Arisan Berhadiah Lelaki Muda (Serambi, 5 Maret) dan Seks Bebas Rambah Banda Aceh (Serambi, 21 Maret), yang dinyatakan langsung oleh Wakil Wali Kota Banda Aceh.
Bagi banyak pihak kasus ini bukan sesuatu yang baru. Sudah sejak lama desas-desus tentang kebebasan seks menyeruak dalam keseharian kita. Kasusnya bermunculan satu per satu tanpa ekspose khusus, dan hanya menjadi komoditas media, sebagai opini dan berita. Kampus menjadi sorotan utama terkait persoalan ini, mengingat komunitas terbesarnya adalah para mahasiswa yang berusia muda dan tinggal di perumahan kos yang terkadang lost control dan menjadi ruang paling mudah tumbuhnya fenomena ini. Dulu kita santer mendengar tentang “Ayam Kampus”, sempat menjadi berita panas, kemudian menghilang seperti laiknya kasus seksual biasa. Kemudian disusul dengan pemberitaan hangat, mini cafe di pinggiran jalan sebagai media transaksi seks yang dilanjutkan dengan janji temu di losmen dan hotel di seputaran kota. Kasus ini juga sempat menjadi menu di sebuah televisi swasta, namun telah ditindaklanjuti oleh Pemkot dengan pembatasan jam operasi cafe, dan kasusnya kemudian menghilang, lalu basi.
Sesungguhnya modus dari free seks itu terus bertumbuh, berubah dan bertambah, makin canggih, makin halus, dan makin tak terdeteksi karena muda-mudi makin “profesional” dalam mengolah bentuk hubungan itu. Mereka menggunakan kendaraan roda empat, janji ketemuan, dan kemudian bertemu di tujuan yang tak dicurigai umum. Lokasi operandi tak lagi melulu di hotel atau losmen, tempat yang paling sering dirazia. Kini mulai beralih ke perumahan, sehingga makin tak terdeteksi. Karena selihai-lihai penjaga keamanan, pencuri tentunya lebih lihai dalam mengelabui kejahatannya, dan ini dilakukan berjamaah. Berdasarkan hasil sebuah penelitian di tahun 2011 saja, ternyata 6,42% seks bebas dilakukan oleh remaja SMA, 12,02% oleh mahasiswa. Penelitian itu juga menyebut 90% siswa terbiasa dengan blue film dan 15%-nya menyatakannya sebagai kebutuhan (Serambi, 5 Maret). Kekuatiran makin besar karena blow up pemberitaan di banyak media, dalam bulan Februari hingga Maret saja, tak kurang dari 5 kasus soal free seks naik kepermukaan. Namun sesungguhnya yang paling mengkuatirkan kita, karena setiap satu kasus yang muncul ke permukaan adalah bagian dari ratusan dan ribuan kasus serupa yang tak terlaporkan. Ini adalah fenomena ice berg, puncak gunung es persoalan kita.
Mau tak mau ketika kita membicarakan kasus di Aceh, apalagi tentang runtuhnya moral, pembahasan pasti akan menyentuh sisi syariah, lalu dikonfrontir dengan kasus yang muncul. Karena syariah adalah sebuah patron, rumus yang diharapkan mampu mencegah yang mungkar dengan perspektifnya yang agamis. Di sinilah tantangan terbesarnya, makin kaffah kita bersyariah, makin tinggi ekspektasi orang, membandingkan dengan daerah lain, yang tidak memberlakukan sistem ini.
Ukuran-ukuran atau parameter keislaman dan kesyariatan menjadikan persoalan yang kelihatan sederhana jadi lebih rumit. Dengan meningkatnya jumlah program keagamaan, seperti program Beut Ba’da Magrib, diberlakukan kebijakan seperti Larangan Duduk Mengangkang, ditambah jumlah sarana ibadah, namun tidak pararel dan signifikan dengan penambahan jamaah di masjid setiap waktu shalat dan di waktu-waktu lain. Kelompok yang memanfaatkan masjid justru terlihat eksklusif, dan penerima pesan dakwah adalah kelompok yang homogen, jamaah masjid yang sama dari waktu ke waktu. Kelompok yang menyiarkan dan memakmurkan masjid dikesankan menjadi kelompok “jadul”. Ini tidak berangkat dari sesuatu yang pesimistis, apalagi merendahkan, tapi inilah realitas kekinian zaman.
Kita bisa berkaca dalam meneropong kasus besar dengan melihat potret keseharian kita. Persoalan sederhana cara berpakaian yang katanya makin modis, trendi, up to date; model pergaulan cipika-cipiki yang tak lagi menjadi pemandangan aneh. Banyak komunitas atau kelompok yang tidak lagi mengindahkan aturan muhrim-muhriman. Sekolah menjadi komunitas yang saat ini melahirkan sikap permisif terhadap model pergaulan bebas. Meskipun ada pemberlakuan pemisahan murid perempuan dan laki-laki saat jam belajar, justru berpeluang “mengobarkan semangat untuk berintim-intim di jam istirahat.”
Namun, semua fenomena itu bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Paska tsunami semua kasus masuk seperti air bah tak terbendung bersama masuknya bala bantuan bencana. Dan hari ini kita menemukan dua hal paskatsunami. Pertama, berkah bantuan yang tak terkira yang mengubah Aceh berwajah manis metropolis. Kedua, ada wajah muram, nakal, berupa kejahatan lain yang ikut sebagai dampak pertumbuhan kota baru. Mall bertambah meriah, kendaraan memenuhi jalanan, ruang parkir makin sempit, semrawut dan jalanan macet tiba-tiba menjadi "menu baru" kota.
Komunikasi nirkabel, transportasi cepat, memungkinkan semua berpindah dalam kedipan mata. Dan tak ada yang dapat menyanggah bahwa praktik yang sedang terjadi di ibukota sebagai pusat segala macam masuknya budaya, sedang diadopsi pelan namun pasti, dalam kadar yang berbeda. Jika sebelumnya praktik asusila tersembunyi, kini lebih eksklusif. Pejabat, politikus, hingga orang awam memanfaatkan, cafe, hotel sebagai mediumnya. Janji bertemu bisa dilakukan lewat handpone, via lesehan di cafe, tidak seperti dulu harus face to face untuk booking-an. Dengan sistem yang canggih, penjahat bisa mengakali polisi dengan cara yang lebih lihai, konon lagi jika pemainnya mereka sendiri. Satu-satunya yang tidak bisa dikibuli oleh mata dan hati kita hanyalah malaikat penjaga hati, Atid dan Raqib, dan Tuhan yang mengawasi manusia, bahkan untuk setiap daun yang luruh dari tiap pohon di seluruh alam semesta. Namun ukuran itu mungkin terlalu "melangit dan abstrak" bagi pelaku maksiat yang berprinsip, “Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk syurga.”
Namun, runtuhnya “rasa memilikiTuhan” dalam hati kita menjadi pemicu utama hilangnya arah dan tujuan hidup kita hari ini. Pendekatan agama menjadi sesuatu yang tidak “indah” dan “jadul” bagi para pelaku maksiat. Dengan apa pun kemasannya, isu agama tetap menjadi barang yang tidak "terbeli" meskipun kita melakukannya dengan sistem cuci gudang, beli satu gratis lima. Momentum agama hanya menjadi komoditas pada momentum tertentu, ketika Ramadhan, ketika hari raya, dan ketika kematian menjelang. Saat itu kita tiba-tiba teringat ternyata masih punya Tuhan, masih punya sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan kelak setelah kehidupan dan kematian. Setelahnya kita lupa lagi! Barangkali kita butuh sustainable tsunami, untuk setiap kali mengingatkan kadar moralitas, seperti diungkap halus dalam hadih maja, “Meudoa watee sakeet, Meurateb watee gempa.” Itulah kebutuhan kita akan Tuhan hari ini.
Satu-satunya harapan kita adalah bahwa kita masih bersandar pada syariah, dengan hukum Allah yang tidak dapat dijustifikasi karena kebenarannya yang hakiki. Berikutnya adalah keluarga, dengan kualitas pertemuan, memanfaatkan momen sesederhana makan bersama, shalat berjamaah untuk mengantar dan membimbing anak-anak sebagai titipan Tuhan yang kelak akan dipertanggungjawabkan.
Lalu berharap para pemimpin kita tak hanya menjadikan syariah sebagai pencitraan, namun dengan kekuasaannya yang besar dapat melakukan intervensi untuk semua jenis kebaikan. Melakukan langkah proaktif bukan reaktif, terhadap kemunculan berbagai persoalan. Dan dalam perspektif yang luas, menjadikan Aceh sebagai negeri Islami dan madani.
Almarhum Prof Dr Safwan Idris MA pernah mengatakan, “Islam itu bukan simbolitas, Islam tidak terletak pada besarnya surban, tingginya peci, tertutupnya aurat seluruh badan, tetapi Islam itu adalah pengamalan secara kaffah. Sangat bagus jika pengamalannya sampai pada tahap seseorang dapat memakai simbol-simbol, tetapi intinya bukan di sana.”http://aceh.tribunnews.com/2013/03/31/tragedi-moral-di-nanggroe-syariat
Label
#
(2)
100 buku
(1)
1001 Cerita membangun Indonesia
(1)
2016
(1)
2019 prabowo presiden
(1)
2019 tetap jokowi
(1)
2020
(1)
2021
(2)
21 tahun
(1)
21 wasiat Sultan untu Aceh
(2)
49 tahun IAIN Araniry
(2)
99 buku
(1)
a ceh bahan buku
(1)
Abu Mudi
(1)
aceh
(11)
Aceh Barat
(2)
aceh digest
(1)
aceh history
(2)
aceh kode
(2)
aceh kopi
(1)
Aceh Singkil
(1)
aceh tengah
(3)
Aceh Tourism
(2)
Adat Aceh
(3)
agama
(25)
Air Bersih
(2)
aisya
(1)
Alue Naga
(1)
amazon
(1)
aminullah
(1)
anehnya negeriku indonesia
(3)
anggaran nanggroe aceh
(1)
anies
(1)
APBA
(6)
apresiasi serambi indonesia
(1)
arsip
(1)
artikel hanif
(74)
artikel kompas
(1)
artikel nabil azra
(3)
artikel rini
(4)
Artikel Serambi
(9)
artikel serambi-tokoh sastra melayu
(2)
artikel Tanah Rencong
(1)
artikel trans89.com
(1)
artikel/opini Modus Aceh
(1)
arundati roy
(1)
asia
(1)
asuransi
(2)
atlas of places
(1)
australia
(1)
Ayam
(1)
bacaan hari raya
(1)
bahan buku
(106)
bahan buku aceh
(1)
bahan buku kolaborasi
(2)
bahan buku.
(12)
bahan tulisan
(1)
bahana buku
(1)
bahasa
(2)
Banda Aceh
(1)
Bank Aceh syariah
(1)
Bank syariah Indonesia
(1)
batu
(1)
bawaslu
(1)
bencana alam
(7)
bendera dan lambang
(1)
Berbagi
(1)
berita nabil
(1)
berita serambi
(1)
berkeadilan
(1)
BHR
(1)
Bie Da Rao Wo Zhong Tian
(1)
bill gates
(2)
Bioscoop
(1)
Bioskop
(1)
birokrasi
(1)
birokrasi politik
(1)
Blogger Competition 2017
(1)
Blogger Indonesia
(1)
BMA 2023
(3)
Bola Kaki
(1)
book
(1)
BP2A
(1)
BPBA
(1)
BSI
(1)
budaya
(83)
budaya aceh
(12)
budaya massa
(1)
budaya tradisional
(2)
bukit barisan
(1)
buku
(7)
buku covid anak
(1)
Buku kapolri
(1)
bulkstore
(2)
bullying
(1)
bumi
(2)
bumi kita
(1)
bumi lestari
(2)
bumiku satu
(1)
Buyakrueng tedong-dong
(1)
cadabra
(1)
cerdas
(1)
cerita
(2)
cerpen
(2)
child abuse
(1)
climate change
(3)
Connecting Happiness
(3)
ConnectingHappiness
(1)
Cormoran Strike
(1)
Corona
(1)
corona virus19
(2)
covid
(1)
Covid-19
(1)
covid19
(9)
CSR
(1)
cuplikan
(1)
Cut Nyak Dhien
(1)
dakwah kreatid
(2)
Dana Hibah
(2)
dara baroe
(1)
Data
(1)
dayah
(4)
De Atjehers
(1)
demam giok
(1)
Democrazy?
(5)
demokrasi
(10)
demokrasi aceh
(6)
diaspora
(1)
dinasti politik
(3)
diplomasi gajah
(1)
Ditlantas Meupep-pep
(1)
diva
(1)
DKPP
(1)
Don’t Disturb Me Farming
(1)
DPRA
(1)
dr jeckyl
(1)
Drama
(1)
drive book not cars
(2)
dua tahun BSI
(1)
Dusun Podiamat
(1)
earth hour
(2)
earth hour 2012
(2)
ekonmi islam
(1)
Ekonomi
(52)
Ekonomi Aceh
(51)
ekonomi biru
(1)
ekonomi Islam
(7)
ekonomi sirkular
(2)
ekoomi
(1)
Ekosistem kopi
(1)
eksport import
(1)
Elizabeth Kolbert
(1)
essay
(1)
essay keren
(1)
essay nabil azra
(1)
falcon
(1)
fiksi
(1)
Film
(6)
Film animasi
(1)
film china
(1)
film cina
(1)
film drama
(3)
Film jadul
(1)
film lawas
(1)
filsafat
(2)
fir'aun
(1)
forum warga kota
(1)
forum warung kopi
(2)
FOTO ACEH
(2)
fourth generation university
(2)
GAIA
(1)
gajah sumatera
(1)
gam cantoi
(2)
gambar
(1)
ganjar
(1)
Garis Wallacea
(1)
garis Weber
(1)
Gas Terus
(1)
GasssTerusSemangatKreativitasnya
(1)
gempa
(2)
gender
(3)
generasi manusia
(1)
germs
(1)
gibran. jokowi
(1)
Gillian Rubinstein
(1)
god
(1)
goenawan mohamad
(1)
gramedia
(1)
groomer
(1)
grooming
(1)
gubernur
(2)
guiness book of record
(1)
guru
(1)
guru blusukan
(1)
guru kreatif
(1)
guru milenial
(1)
H. Soeprapto Soeparno
(1)
hacker cilik
(1)
Hadih Maja
(1)
Halodoc
(1)
Halue Bluek
(1)
hanibal lechter
(1)
hanif sofyan
(7)
hardikda
(1)
hari Air Sedunia
(3)
hari bumi
(2)
Hari gizi
(1)
hari hoaxs nasional
(2)
harry potter
(1)
hasan tiro
(1)
hastag
(1)
hemat energi
(1)
herman
(1)
Hikayat Aceh
(2)
hoaks
(2)
hoax
(2)
hobbies
(1)
hoegeng
(1)
HUDA
(1)
hukum
(3)
humboldtian
(1)
hutan indonesia
(5)
ibadah
(1)
ide baru
(1)
ide buku
(2)
idelisme
(1)
ideologi
(1)
idul fitri 2011
(1)
iklan
(1)
Iklan Bagus
(2)
indonesia
(4)
Indonesia city Expo 2011
(1)
industri
(1)
inovasi
(1)
Inovasi Program
(1)
intat linto
(1)
intermezo
(5)
internet dan anal-anak
(1)
investasi
(2)
investasi aceh
(1)
Iran
(1)
isatana merdeka
(1)
Islam
(1)
islam itu indah
(3)
Islamic banking
(1)
ismail bolong
(1)
Ismail Fahmi Lubis
(1)
IT
(4)
jalur Rempah
(2)
Jalur Rempah Dunia
(2)
Jalur rempah Nusantara
(2)
jeff bezzos
(1)
Jejak Belanda di Aceh
(1)
jepang
(1)
jk rowling
(2)
JNE
(5)
JNE Banda Aceh
(1)
JNE33Tahun
(1)
JNEContentCompetition2024
(1)
joanne kathleen rowling
(1)
jokoei
(1)
jokowi
(1)
juara 1 BMA kupasi 2023
(1)
juara 1 jurnalis
(1)
juara 2 BMA kupasi
(1)
juara 3 BMA kupasi 2023
(1)
jurnal blajakarta
(1)
jurnal walisongo
(1)
jurnalisme warga
(1)
kadisdik
(1)
kaki kuasa
(1)
kalender masehi
(1)
kambing hitam
(1)
kampanye
(1)
kampus unsyiah
(4)
kamuflase
(1)
karakter
(1)
kasus kanjuruhan
(1)
kasus sambo
(1)
kaya
(1)
KBR
(1)
kebersihan
(1)
Kebudayaan Aceh
(7)
Kebumen
(1)
kedai kupi
(1)
kedai-kopi
(1)
Kedokteran
(1)
kedokteran Islam
(1)
kejahatan anak
(1)
kejahatan seksual anak
(1)
kekuasaan.
(1)
kelas menulis SMAN 5
(4)
kelautan
(4)
keluarga berencana
(1)
Keluarga Ring Of Fire
(1)
kemenag
(1)
kemiskinan
(2)
kemukiman
(2)
kepemimpinan.
(2)
kepribadian
(1)
Kepribadian Muslim
(1)
kerajaan Aceh
(2)
kerja keras
(1)
kesehatan
(13)
kesehatan anak
(4)
keuangan
(1)
keuangan aceh
(1)
khaled hosseini
(1)
Khanduri Maulod
(1)
khutbah jumat
(1)
king maker
(1)
kirim naskah
(1)
Kisah
(1)
Kisah Islami
(1)
kite runner
(1)
KKR
(2)
KoescPlus
(1)
koleksi buku bagus
(4)
koleksi foto
(2)
Koleksi Kontribusi Buku
(1)
koleksi tulisanku
(2)
kolom kompas
(1)
kolom kompas hanif sofyan
(2)
kolom tempo
(2)
kompetensi siswa
(1)
Komunikasi
(1)
komunitas-serambi mihrab
(1)
konsumerisme
(1)
Kontribusi Hanif Sofyan untuk Buku
(3)
Kopi
(2)
kopi aceh
(5)
kopi gayo
(2)
kopi gayo.kopi aceh
(1)
kopi libri
(1)
Korupsi
(7)
korupsi di Aceh
(4)
kota masa depan
(1)
kota yang hilang
(1)
KPK
(2)
KPU
(1)
kredo
(1)
kriminal
(1)
krisis air
(2)
ku'eh
(1)
Kuliner Aceh
(2)
kultum
(2)
kupasi
(1)
kurikulum 2013
(1)
kwikku
(1)
Labschool UIN Ar Raniry Banda Aceh
(1)
lain-lain
(1)
lalu lintas
(1)
lambang dab bendera
(4)
laut
(1)
Laut Aceh
(1)
Laut Biru
(1)
lebaran 2025
(1)
legenda
(1)
Li Zhuo
(1)
lian hearn
(1)
Library
(1)
Library Gift Shop
(2)
lifestyle
(1)
limapuluah koto
(1)
Lin Xian
(1)
lincah
(1)
Lingkungan
(42)
lintho
(1)
listrik aceh
(1)
LNR
(1)
Lomba artikel 2016
(4)
Lomba blog 2016
(1)
lomba blog unsyiah 2018
(1)
Lomba Blogger Unsyiah
(2)
lomba JNE
(1)
lomba mneulis asuransi
(1)
LSM-NGO
(3)
M nasir Fekon
(1)
Maek
(1)
maekfestival
(1)
magazine
(1)
makam
(1)
malcom gladwell
(1)
manajemen
(2)
manipulatif
(1)
manusia
(2)
marginal
(1)
Masyarakat Urban.
(1)
Mauled
(1)
maulid
(2)
Maulod
(1)
Media
(1)
megawati
(1)
Melinjo
(1)
Memberi
(1)
menhir
(1)
Menyantuni
(1)
mesjid baiturahman
(2)
Meulaboh
(1)
MH Amiruddin
(1)
migas
(1)
mimbar jum'at
(1)
minangkabau
(1)
Misbar
(1)
misi
(1)
mitigasi bencana
(5)
molod
(1)
moral
(1)
More Than Just A Library
(2)
motivasi
(1)
MTSN 4 Labschool UIN Ar Raniry
(1)
MTSN4 Banda Aceh
(1)
mukim
(2)
mulieng
(1)
museum
(2)
museum aceh
(2)
Museum Tsunami Aceh
(4)
music
(1)
Music show
(1)
musik
(1)
muslim produktif
(1)
musrenbang
(1)
Nabi Muhammad
(2)
naga
(1)
nagari seribu menhir
(1)
narkotika
(1)
naskah asli
(3)
Naskah Kuno Aceh
(2)
Negeri rempah terbaik
(1)
nelayan
(1)
new normal
(1)
Nina Fathdini
(1)
novel
(1)
Nubuah
(1)
Nusantara
(1)
off road
(1)
olahraga
(2)
one day one surah
(1)
opini
(5)
opini aceh tribun
(2)
opini analisadaily.com
(1)
opini bebas
(1)
Opini di lentera
(1)
opini hanif
(1)
opini hanif di serambi indonesia
(4)
opini hanif sofyan
(1)
Opini Hanif Sofyan di Kompas.id
(1)
opini hanif sofyan di steemit
(1)
opini harian aceh
(4)
Opini Harian Waspada
(1)
opini kompasiana
(2)
opini lintas gayo
(11)
opini lintas gayo com
(1)
opini LintasGayo.co
(2)
opini majalah tanah rencong
(1)
opini nabil azra
(1)
opini rini wulandari
(1)
opini serambi
(43)
opini serambi indoensia
(4)
opini serambi indonesia
(169)
opini siswa
(4)
opini tabloid lintas gayo
(5)
opini tempo
(1)
otsus
(1)
OYPMK
(1)
pandemi
(1)
pandemi covid-19
(9)
papua
(1)
Pariwisata
(3)
pariwisata aceh
(1)
parlemen aceh politik aceh
(8)
pawang
(1)
PDAM
(1)
PDIP
(1)
pelosok negeri
(1)
Peluang Pasar
(1)
pemanasan global. green energy
(1)
pembangunan
(29)
pembangunan aceh
(1)
pemerintah
(4)
pemerintahan
(1)
pemilu 2014
(5)
pemilu pilkada
(1)
pemilukada
(9)
Pemilukada Aceh
(14)
penddikan
(2)
pendidikan
(29)
pendidikan Aceh
(27)
penjahat kambuhan
(1)
penyair aceh
(1)
Penyakit kusta
(1)
Perbankan
(3)
perbankan islam
(3)
perdamaian
(1)
perempuan
(8)
perempuan Aceh
(5)
perempuan dan ibu
(1)
perempuan dan politik
(2)
perikanan
(1)
perpustakaan
(2)
perputakaan
(1)
personal
(2)
personal-ekonomi
(1)
pertanian
(2)
perusahaan ekspedisi
(1)
perusahaan logistik
(1)
perwira tinggi polri
(1)
pesantren
(2)
Pesta Demokrasi
(1)
pidie
(1)
pileg
(1)
pileg 2019
(2)
pilkada
(14)
pilpres
(2)
pilpres 2019
(3)
pilpres 2024
(2)
PKK Aceh
(1)
plastik
(1)
PNS
(1)
polisi
(2)
polisi jahat
(1)
politik
(115)
politik aceh
(160)
politik indonesia
(3)
politik KPK versus korupsi
(4)
politik nasional
(4)
politis
(1)
politisasi
(1)
politk
(5)
Polri
(1)
polri presisi
(1)
popular
(1)
poster.
(1)
prabowo
(2)
prediktif
(1)
presiden
(1)
presiden 2019-2024
(1)
PRESISI POLRI
(1)
produktifitas
(1)
PROFIL
(1)
propaganda
(1)
psikologi
(2)
psikologi anak
(1)
psikologi pendidikan
(1)
psikologis
(1)
Pulo Aceh
(1)
PUSA
(2)
pustaka
(1)
qanun
(1)
qanun Anti rentenir
(1)
Qanun LKS
(2)
Qu Meng Ru
(1)
ramadan
(1)
ramadhan
(2)
Ramadhan 2011
(4)
ramadhan 2012
(2)
rawa tripa
(1)
recycle
(1)
reduce
(1)
reformasi birokrasi
(1)
religius
(1)
Resensi buku
(3)
Resensi Buku hanif
(2)
resensi film
(2)
resensi hanif
(2)
residivis
(1)
resolusi. 2021
(2)
responsibility
(1)
reuse
(1)
review buku
(1)
revolusi industri
(1)
robert galbraith
(1)
rohingya
(1)
Romansa
(1)
romantisme kanak-kanak
(1)
RPJM Aceh
(3)
RTRWA
(2)
ruang kelas
(1)
rujak u grouh apaloet
(1)
rumbia aceh
(1)
sains
(1)
Samalanga
(1)
sampah
(1)
satria mahardika
(1)
satu guru satu buku
(1)
satwa liar
(1)
secangkir kopi
(1)
sejarah
(9)
sejarah Aceh
(28)
sejarah Aceh.
(3)
sejarah dunia
(1)
sejarah-bahasa
(5)
sekda
(1)
sekolah
(1)
sekolah terpencil
(1)
selfie politik
(1)
Servant Leadership
(1)
setahun polri presisi
(1)
setapak perubahan
(1)
sigit listyo
(1)
sikoat
(1)
Sineas Aceh
(2)
Sinema Aceh
(2)
sinovac
(1)
situs
(1)
snapshot
(1)
sosial
(14)
sosiologi
(1)
sosiopat
(1)
SOSOK.TOKOH ACEH
(3)
spesies
(1)
statistik
(1)
Stigma
(1)
Stop Bajak Karya Online
(1)
sultan iskandar muda
(1)
sumatera barat
(1)
sustainable laundry
(1)
syariat islam
(7)
TA sakti
(1)
tahun baru
(2)
tambang aceh
(1)
tambang ilegal
(1)
tanah rencong
(1)
tantang IB
(1)
Tata Kelola pemerintahan
(4)
tata kota
(2)
TDMRC
(1)
Tehani Wessely
(1)
tehnologi
(5)
televisi
(1)
Tenaga kerja
(2)
terbit buku
(1)
the cucko'scalling
(1)
Thriller
(1)
timor leste
(1)
tips
(3)
tokoh dunia
(1)
tokoh kartun serambi
(2)
tradisi
(2)
tradisi aceh
(2)
tradisional
(1)
transparansi
(1)
tsunami
(9)
Tsunami Aceh
(9)
Tsunami story Teller
(2)
tuan hide
(1)
tukang obat
(1)
tulisan ringan
(1)
TUmbuh seimbang berkelanjutan bersama BSI
(1)
TV Aceh
(1)
tv dan anak-anak
(3)
uang haram
(1)
ujaran kebencian
(1)
ulama aceh
(7)
UMKM
(1)
Unsyiah
(2)
Unsyiah Library
(3)
Unsyiah Library Fiesta 2017
(3)
upeti
(1)
upeti jin
(1)
ureung aceh
(1)
vaksin
(2)
viral
(1)
visi
(1)
Visit Aceh
(2)
Visit Banda Aceh
(7)
Visit Banda Aceh 2011
(4)
walhi goes to school
(1)
wali nanggroe
(3)
walikota 2014
(1)
wanita Iran
(1)
warung kupi
(2)
wirausaha aceh
(1)
Wisata Aceh
(5)
wisata spiritual
(2)
wisata tematik jalur rempah
(1)
Yayat Supriyatna
(1)
youtube
(2)
YouTube YoYo English Channel
(1)
YPBB
(1)
zero waste
(2)
Zhuang Xiao Man
(1)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar