by Iman Suryanto
Laporan Wartawan Tribun Batam
TRIBUNNEWS.COM, BATAM - Anggapan kalau film drama jarang bisa mendulang sukses di Box Office terpatahkan oleh film The Help. Film yang di rilis bulan lalu di Hollywood ini justru laris manis. .Bahkan The Help saat ini telah meraih pendapatan hampir US $150 Juta di Amerika. Padahal film ini hanya memiliki budget sekitar US $25 Juta. Film ini disebut sebagai film sleeper-hit, karena tidak ada yang memprediksi kesuksesannya sampai sebegitu hebatnya.
Lalu apa sih yang membuat film ini menjadi hal yang spesial dan sangat istimewa bahkan bisa bertahan di puncak hingga berminggu-minggu? Tentu saja bukan semata karena jajaran bintangnya yang memang karirnya sedang bersinar saat ini seperti Emma Stone dan Bryce Dallas Howard. Tapi karena tema yang diangkat terbilang masih sangat relevan dengan situasi kehidupan masyarakat Amerika saat ini, isu rasialisme.
Sebuah isu perbedaan `warna kulit' yang sepertinya memang tidak akan pernah mungkin habis untuk dibahas dalam wacana apapun.
Film The Help diangkat dari novel laris karya Kathryn Stockett yang pertama kali di rilis 2009 lalu. Novelnya sendiri banyak mendapat pujian Internasional dan telah diterbitkan di lebih dari 35 negara. Novelnya telah terjual lebih dari 5 Juta copy di seluruh dunia, bahkan mampu bertahan dalam chart The New York Time Best Seller selama lebih dari 100 minggu.
Hanya berselang 2 tahun, adaptasi filmnya dibuat oleh sutradara Tate Taylor. Seorang sutradara yang sepanjang karir penyutradarannya baru menyutradarai 2 (dua) film layar lebar. Pretty Ugly People (2008) sebuah film komedi yang mendapat sambutan kurang baik dari kritikus maupun penonton, dan yang terbaru The Help (2011) yang hasilnya berbanding terbalik dengan film layar lebar debutnya tersebut.
Plot Film The Help ini mengisahkan tentang `isu rasialisme' antara warga kulit hitam' dan kulit putih. Mengambil set di Mississipi pada tahun 60-an film ini diwali dengan jalan hidup eorang penulis bernama Eugenia `Skeeter' Phelan (Emma Stone) kembali ke kampung halamannya di Mississipi untuk mewawancarai para wanita kulit hitam yang bekerja disebuah keluarga `kulit putih'. Aibileen Clark (Viola Davis), wanita yang bekerja sebagai `pembantu rumah tangga' yang juga merupakan sahabat terdekat Skeeter menjadi narasumber pertamanya.
Aibileen selanjutnya membantu Skeeter untuk melengkapi interviewnya. Mereka kemudian juga dipertemukan dengan seorang wanita angkuh bernama Hilly Holbrook (Bryce Dallas Howard) yang menambah runcing diskriminasi di daerah tersebut dengan menciptakan sebuah undang-undang yang mengharuskan majikan dan pembantu `kulit hitam'-nya memiliki toilet yang berbeda.
Sutradara Tate Taylor yang mengenal dekat penulis novelnya, Kathryn Stockett mengaku dari awal membaca manuskrip novelnya sudah tertarik dengan kisah yang ditulis Kathryn tersebut. Oleh karena itu, ia sendiri merasa aneh banyak sekali penerbit yang menolak menerbitkan novel karya Kathryn tersebut. Sutradara Tate Taylor yang menulis naskahnya bersama Kathryn mengaku cukup mengalami kesulitan mengadaptasi novel setebal 400 halaman dan memiliki gaya penceritaan dari beberapa tokoh ini kedalam sebuah film.
Salah satu fakta yang cukup menarik, walaupun film ini mendapat highlight karena `bintang utama'nya adalah aktris Emma Stone, sesungguhnya bukan Emma-lah yang ingin ditampilkan oleh Tate taylor sebagai tokoh sentral dalam filmnya.
"Aku memutuskan sejak awal hanya mengambil satu orang tokoh saja yang akan menceritakan kisah film ini, karakter yang benar-benar penting, seorang wanita keturunan Afro-Amerika yang tinggal pada masa itu bernama Aibileen (Viola Davis). Ini adalah film mengenai Aibileen. Oleh karena itu tokoh Skeeter (Emma Stone) justru hanya aku tampilkan menjelang akhir karena yang ingin Aku tampilkan adalah kisah Aibileen," terangnya seperti dilansir Femalefirst, Selasa(27/9/2011).
Sementara Emma Stone, salah satu akris yang menjadi bintang utama film ini mengaku sangat senang dan bangga bisa berakting di film yang mengangkat tema rasialisme seperti ini.
"Aku tidak tahu apakah ini hanya terjadi di generasiku saja, tetapi aku pribadi sebelumnya tidak terlalu mengetahui tentang persamaan derajat dan segala lika-likunya. Aku banyak sekali mendapat pelajaran dari kisah film ini (walaupun kisah dalam film ini adalah fiksi) dan mengetahui informasi bersejarah (mengenai isu rasialisme pada waktu itu), dan Aku berharap para orang-orang lain dari generasiku sekarang ini akan menonton filmnya karena kita semua perlu mengetahui sejarah yang pernah terjadi di masa lalu," kata Emma.
Emma juga menambahkan. "Wanita seharusnya memiliki hak untuk memilih semua hal yang diinginkan. Aku berharap suatu hari mereka mendapatkan hak yang sama sebagai manusia. Kita semua harus dilahirkan dalam kesetaraan," jelasnya.
Hal inilah yang membuat Skeeter semakin bersemangat untuk menulis buku berjudul `The Help' berdasarkan kisah hidup para pembantu rumah tangga kulit hitam ini yang sering diperlakukan tidak adil tetapi tetap setia mengabdikan diri merawat anak-anak dari keluarga `kulit putih'. Salah satu fakta menarik film ini adalah ternyata dua aktris utama peemran film ini Emma Stone dan Bryce Dallas Howard keduanya sama-sama pernah memerankan karakter Gwen Stacy di film Spider-Man.
The Help telah dirilis di Amerika sejak 10 Agustus 2011 yang lalu. Semoga saja film yang mengangkat isu yang sangat menarik ini bisa segera tayang di Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar