Kolaborasi Komunitas Tikar Pandan, Goethe-Institute, Walhi dan Mapala FH Unsyiah, dalam dua hari ini 4-5 Juli 2011, menyuguhi kita sebuah festival yang tak biasa, Festival Film Perubahan Iklim. Ide yang digagas menarik, memancing kita untuk tak sekedar melirik, tapi juga ingin tahu. Karena festival satu ini membawa pesan film-film yang tak masuk "box office"tapi penting!. Ajang ini dimaksudkan untuk "memamerkan" sebuah realitas, sebuah kondisi kritis dan cenderung miris dalam format yang berbeda dalam sebuah festival. Karena ketika kita bicara climate change, perubahan iklim, kita tengah diajak memikirkan sebuah kondisi yang menggambarkan kekuatiran kita pada satu soal genting namun penting, perubahan lingkungan disebuah tempat dimana kita tinggal hari ini, di bumi!.Dampak climate change, dipahami oleh banyak orang sebagai sebuah proses panjang, tidak serta merta memberi dampak langsung dan cepat. Mungkin bencana model instan yang cenderung disadari oleh banyak orang sebagai "bahaya", lain hal dengan perubahan iklim. Jika analogi kita mau memahami satu saja dari rantai dampak perubahan iklim, kita akan mulai dan makin menyadari p e r u b a h a n yang tengah dipertontonkan alam. Dimulai dari efek rumah kaca, yang berakibat pada makin tipisnya lapisan atmosfir, lalu berdampak pada mencairnya sejumlah gunung es di benua dingin antartika, lalu disusul dengan makin bertambanya volume air dilautan yang mendorong pada makin tingginya permukaan air laut dan makin rendahnya permukaan daratan. Dampak penyusutan daratan, abrasi yang meresahkan para pemukim urban di pesisir, disadari atau tidak sebenarnya merupakan dampak dari rantai perubahan iklim tadi yang sumbernya jauh dari kita di benua lain yang berbeda.
Membangun kesadaran kritis dalam wacana climate change adalah sebuah tantangan. ini pula agaknya yang menjadi salah satu alasan ketika film perubahn iklim harus dihadirkan dalam sebuah "festival". Idenya di luar kebiasaan tapi ini luar biasa. Al Gore saja, yang telah memulai sebuah langkah besar memperkenalkan perubahan iklim melalui film yang fenomenal inconvenient truth menghadapi banyak tantangan, sebagai isue murahan, tak penting dan terlalu mengada ada. Lagi, persoalannya karena ketidak instan-an dampak dari perubahan iklim dalam keseharian kita, sekalipun hari ini, tanpa kita sadari derajat panas terus beranjak naik.
Setidaknya gagasan ini menarik menjadi bahan kaji kita, untuk mulai intens memikirkan perubahan lingkungan yang dampaknya terlihat biasa dan hampir tak disadari sebagai sebuah "bencana", namun kini berada diantara kita bahkan menyatu dalam keseharian kita.7/4/11

Tidak ada komentar:
Posting Komentar