Label

# (1) 2019 prabowo presiden (1) 2019 tetap jokowi (1) 21 wasiat Sultan untu Aceh (2) 49 tahun IAIN Araniry (2) aceh (4) Aceh Barat (2) aceh history (1) aceh kode (2) aceh tengah (3) Aceh Tourism (2) Adat Aceh (3) agama (19) Air Bersih (2) anehnya negeriku indonesia (3) anggaran nanggroe aceh (1) APBA (6) apresiasi serambi indonesia (1) arsip (1) artikel hanif (73) artikel nabil azra (1) artikel rini (4) Artikel Serambi (9) artikel serambi-tokoh sastra melayu (2) artikel Tanah Rencong (1) artikel/opini Modus Aceh (1) arundati roy (1) asia (1) atlas of places (1) bahan buku (74) bahan buku. (12) bahasa (2) bawaslu (1) bencana alam (6) berita nabil (1) berita serambi (1) bill gates (1) birokrasi (1) Blogger Competition 2017 (1) Blogger Indonesia (1) BP2A (1) budaya (81) budaya aceh (12) budaya massa (1) budaya tradisional (2) buku (2) bumi (1) bumi kita (1) bumi lestari (2) bumiku satu (1) cerpen (1) child abuse (1) climate change (3) CSR (1) Cut Nyak Dhien (1) dakwah kreatid (2) Dana Hibah (2) dayah (3) demam giok (1) Democrazy? (5) demokrasi (7) demokrasi aceh (6) diaspora (1) dinasti politik (2) diplomasi gajah (1) DKPP (1) DPRA (1) drive book not cars (2) earth hour (2) earth hour 2012 (2) Ekonomi (35) Ekonomi Aceh (43) ekonomi biru (1) ekonomi Islam (5) essay (1) essay keren (1) essay nabil azra (1) Film (5) Film animasi (1) film drama (3) filsafat (2) forum warga kota (1) forum warung kopi (1) FOTO ACEH (2) fourth generation university (1) gajah sumatera (1) gam cantoi (2) gambar (1) gempa (2) gender (3) goenawan mohamad (1) gubernur (2) guiness book of record (1) guru (1) hacker cilik (1) Hadih Maja (1) hardikda (1) hari Air Sedunia (3) hari bumi (2) Hari gizi (1) hari hoaxs nasional (2) hasan tiro (1) hastag (1) hemat energi (1) Hikayat Aceh (2) hoaks (2) hoax (2) hobbies (1) HUDA (1) hukum (2) humboldtian (1) hutan indonesia (5) ideologi (1) idul fitri 2011 (1) iklan (1) Iklan Bagus (2) Indonesia city Expo 2011 (1) intermezo (5) internet dan anal-anak (1) investasi (1) investasi aceh (1) islam itu indah (3) IT (4) kalender masehi (1) kampanye (1) kampus unsyiah (4) karakter (1) Kebudayaan Aceh (7) kedai kupi (1) kedai-kopi (1) Kedokteran (1) kedokteran Islam (1) kelas menulis SMAN 5 (4) kelautan (4) keluarga berencana (1) Keluarga Ring Of Fire (1) kemiskinan (2) kemukiman (2) kepemimpinan. (2) kepribadian (1) Kepribadian Muslim (1) kerajaan Aceh (2) kesehatan (7) kesehatan anak (4) keuangan aceh (1) khutbah jumat (1) Kisah (1) Kisah Islami (1) KKR (2) koleksi buku bagus (3) koleksi foto (2) koleksi tulisanku (1) Komunikasi (1) komunitas-serambi mihrab (1) konsumerisme (1) kopi aceh (2) kopi gayo (1) kopi libri (1) Korupsi (6) korupsi di Aceh (4) kota masa depan (1) kota yang hilang (1) KPK (1) KPU (1) kriminal (1) krisis air (2) ku'eh (1) Kuliner Aceh (1) kultum (2) kurikulum 2013 (1) lain-lain (1) lalu lintas (1) lambang dab bendera (4) laut (1) Library (1) Library Gift Shop (2) Lingkungan (40) listrik aceh (1) Lomba artikel 2016 (4) Lomba blog 2016 (2) lomba blog unsyiah 2018 (1) Lomba Blogger Unsyiah (2) LSM-NGO (3) magazine (1) manajemen (2) manusia (1) marginal (1) Masyarakat Urban. (1) maulid (1) Media (1) mesjid baiturahman (2) Meulaboh (1) migas (1) mimbar jum'at (1) mitigasi bencana (4) More Than Just A Library (2) mukim (2) museum (2) museum aceh (2) Museum Tsunami Aceh (4) music (1) Music show (1) musrenbang (1) narkotika (1) naskah asli (3) Naskah Kuno Aceh (2) nelayan (1) Nubuah (1) off road (1) olahraga (2) opini (4) opini aceh tribun (2) opini hanif sofyan di steemit (1) opini harian aceh (4) Opini Harian Waspada (1) opini kompasiana (2) opini lintas gayo (10) opini lintas gayo com (1) opini LintasGayo.co (2) opini majalah tanah rencong (1) opini nabil azra (1) opini serambi (43) opini serambi indonesia (130) opini siswa (4) opini tabloid lintas gayo (5) Pariwisata (3) parlemen aceh politik aceh (5) pawang (1) Peluang Pasar (1) pembangunan (27) pemerintah (4) pemilu 2014 (5) pemilu pilkada (1) pemilukada (9) Pemilukada Aceh (14) penddikan (2) pendidikan (21) pendidikan Aceh (24) penyair aceh (1) Perbankan (3) perbankan islam (3) perempuan (8) perempuan Aceh (5) perempuan dan ibu (1) perempuan dan politik (2) perikanan (1) perpustakaan (2) perputakaan (1) personal (2) personal-ekonomi (1) pertanian (2) Pesta Demokrasi (1) pileg (1) pileg 2019 (2) pilkada (14) pilpres (1) pilpres 2019 (3) PKK Aceh (1) PNS (1) polisi (1) politik (99) politik aceh (152) politik KPK versus korupsi (4) politik nasional (2) politk (4) Polri (1) poster. (1) presiden 2019-2024 (1) PROFIL (1) propaganda (1) psikologi (2) psikologi anak (1) psikologi pendidikan (1) PUSA (2) qanun (1) ramadhan (1) Ramadhan 2011 (4) ramadhan 2012 (2) rawa tripa (1) reformasi birokrasi (1) Resensi buku (3) Resensi Buku hanif (2) resensi film (2) resensi hanif (2) review buku (1) revolusi industri (1) rohingya (1) RPJM Aceh (3) RTRWA (2) rumbia aceh (1) sampah (1) satwa liar (1) sejarah (8) sejarah Aceh (28) sejarah Aceh. (3) sejarah dunia (1) sejarah-bahasa (5) sekolah terpencil (1) Sineas Aceh (2) Sinema Aceh (2) sosial (11) SOSOK.TOKOH ACEH (3) spesies (1) statistik (1) Stop Bajak Karya Online (1) sultan iskandar muda (1) syariat islam (6) tahun baru (1) tambang aceh (1) Tata Kelola pemerintahan (3) tata kota (2) TDMRC (1) tehnologi (5) televisi (1) Tenaga kerja (2) Thriller (1) timor leste (1) tips (3) tokoh dunia (1) tokoh kartun serambi (2) tradisi (2) tradisi aceh (2) tradisional (1) tsunami (8) Tsunami Aceh (9) Tsunami story Teller (2) tukang obat (1) tulisan ringan (1) TV Aceh (1) tv dan anak-anak (3) ujaran kebencian (1) ulama aceh (7) Unsyiah (2) Unsyiah Library (3) Unsyiah Library Fiesta 2017 (3) ureung aceh (1) Visit Aceh (2) Visit Banda Aceh (7) Visit Banda Aceh 2011 (4) walhi goes to school (1) wali nanggroe (3) walikota 2014 (1) warung kupi (1) wirausaha aceh (1) Wisata Aceh (5) wisata spiritual (2) youtube (1)

Selasa, 09 Oktober 2018

Cara Mengidentifikasi Berita "Hoax" di Internet

Oik Yusuf -kompas.com
https://tekno.kompas.com/read/2017/01/09/12430037/begini.cara.mengidentifikasi.berita.hoax.di.internet
Pertumbuhan penetrasi smartphone dan media sosial yang tidak diimbangi literasi digital menyebabkan berita palsu alias hoax merajalela di Indonesia. Informasi menyesatkan banyak beredar melalui aneka jalur digial, termasuk situs online dan pesan chatting.

Kalau tidak hati-hati, netizen bisa termakan tipuan hoax, atau bahkan ikut menyebarkan informasi palsu yang boleh jadi sangat merugikan bagi pihak korban fitnah.

DIPLOMASI PARA GAJAH

https://vik.kompas.com/gajah/#132

Senin, 08 Oktober 2018

Hari Hoaxs Nasional?

oleh hans-acehdigest


Pemberitaan palsu (bahasa Inggris: hoax) adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya.

Hal ini tidak sama dengan rumor, ilmu semu, maupun April Mop.

Konten pemberitaan palsu yang umum digunakan:

Agama, konten yang memuat segala hal yang berkaitan dengan ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan dan peribadatan kepada Tuhan yang maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

Politik, konten yang memuat segala hal yang berhubungan dengan penyelenggaraan negara, pembagian kekuasaan, berupa kebijakan atau cara-cara mempertahankan kekuasaan.

Etnis, konten yang berkaitan dengan segala hal mengenai kelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang mempunyai arti atau kedudukan tertentu karena keturunan, adat, agama, bahasa dan sebagainya.

Bullshit Jobs-On the Phenomenon of Bullshit Jobs


by David Graeber
http://atlasofplaces.com/filter/Essay

In the year 1930, John Maynard Keynes predicted that, by century's end, technology would have advanced sufficiently that countries like Great Britain or the United States would have achieved a 15-hour work week. There's every reason to believe he was right. In technological terms, we are quite capable of this. And yet it didn't happen. Instead, technology has been marshaled, if anything, to figure out ways to make us all work more. In order to achieve this, jobs have had to be created that are, effectively, pointless. Huge swathes of people, in Europe and North America in particular, spend their entire working lives performing tasks they secretly believe do not really need to be performed. The moral and spiritual damage that comes from this situation is profound. It is a scar across our collective soul. Yet virtually no one talks about it.

Selasa, 25 September 2018

Di pilih!! Di pilih!! Di pilih!!

[ iklan ini diterbitkan dalam rangka demam pilpres 2019]

oleh  hanif sofyan-hansacehdigset

pernah dengar mantra abang penjual kain di emperan kaki lima atau di tanah abang? atau

pernah dengar tukang obat obral janji?. di tengah pasar, diantara kerumunan orang lalu lalang, tukang obat menggelar tikar, memancing semua orang berkumpul mendengarkan 'gombalannya'. anehnya banyak orang patuh, meskipun pada akhirnya pergi, karena kaki pegal menunggu atraksi yang ditunggu tak juga dipamerkan.

ketika ditanya, ada apa?, orang menjawab setengah bingung, nggak tau, ada sih dijual obat, tapi nggak tau buat apa. Terus kenapa nonton, karena koar-koar si tukang obat didengar seantero pasar dan membuat orang penasaran!.

terlepas dari tipuan atau bukan, trik penjual obat adalah trik propaganda yang "menarik'. bermodal omdo alias omong doang, alias ember, membuat orang datang, berdesak mau tau.

dengan mantra, "yang jauh mendekat, yang dekat merapat, asal masih di lingkaran, yuk beli obat!,

Terakhir, jangan lupa setelah datang,  lihat barang, jangan lupa!, "di pilih di pilih di pilih!" tapi tetap dengan damai caranya.

Minggu, 23 September 2018

Koruptor, Pileg, dan Pilpres 2019

oleh hanif sofyan-opini serambi indonesia
http://aceh.tribunnews.com/2018/09/24/koruptor-pileg-dan-pilpres-2019

Ada dua persoalan mutakhir yang mengemuka dan menarik untuk menjadi kajian kita. Pertama dalam kaitan mengawal proses tahapan pileg dan pilpres 2019, sekaligus bersisian dengan komitmen dan kerja besar kita memberantas korupsi.

Disharmoni antara Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), kelihatannya akan menambah daftar koruptor yang akan masuk ke parlemen di Indonesia. Daftar ini akan melengkapi temuan data koruptor, setelah dirilis daftar 2.357 koruptor yang berstatus PNS oleh Badan Kepegawaian Negara (BPN). Data ini cukup mencengangkan dalam kaitan kerja kita memberantas rasuah di Indonesia yang dimotori oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Aceh menempati urutan ke-7 dari 34 provinsi dengan 89 orang koruptor (provinsi 13 orang, kabupaten/kota 76 orang). Data tersebut dirilis BPN berdasarkan penelusuran data rekapitulasi di Ditjen Pemasyarakatan Kemenkumham. Data ini terhitung sejak program Pendaftaran Ulang PNS (PUPPNS) pada akhir 2015. Saat ini baru 317 koruptor dari total keseluruhan kasus secara nasional yang telah diberhentikan dengan tidak hormat sebagai PNS. Pemecatan dilakukan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) masing-masing wilayah (Serambi, 14/9/2018).

Sabtu, 22 September 2018

Unsyiah; Dari Humboldtian Ke Fourth Generation University

[Melejitkan intelektualitas, Merawat Spiritualitas]

Oleh hanif sofyan

Pada Juni 1997, Kishore Mahbubani, Ekonom dan Diplomat Singapura hadir di International
Conference On Thinking ke-7 di Singapura, mempresentasikan gagasannya yang kontroversial, “Bisakah Orang Asia Berpikir?”. Kemudian ia juga menerbitkankan esai-nya dalam National Interest pada musim panas 1998. Tentu bukan tanpa dasar Mahbubani mengutarakan argumentasinya tersebut. Diluar dugaannya publikasi ilmiahnya ini tak merangsang orang Asia sendiri untuk bereaksi. Reaksi negatif justru muncul dari kalangan Barat. Mungkin kemunculan gagasannya tak sesuai momentum atau tidak tepat dalam citarasa politik. Terutama jika orang Asia mempertanyakan pertanyaan mendasar tentang dirinya sendiri atau masa depannya. Mungkin ini kesimpulan yang menggelikan menurut Mahbubani, namun sekaligus menunjukkan adanya gap intelektual yang besar antara Timur dan Barat.

Argumentasi Mahbubani yang tak kalah kritis adalah pandangannya tentang keyakinan bahwa orang Asia inferior di hadapan Barat. Persoalan paling mengganggunya bukan kolonisasi fisik, tetapi kolonisasi mental. Menurutnya hanya Jepang yang pertama berani memposisikan diri setara dengan Barat, paska restorasi Meiji tahun 1860-an, dengan tokoh reformisnya yang terkenal Yukichi Fukuzawa. Berikutnya baru diikuti Sun Yat-Sen dan Jawaharlal Nehru. Kedua pertanyaannya muncul sebagai otokritik atas kelemahan Asia agar bangkit dari ketertinggalan dibanding Barat yang memiliki standar tinggi atas kemajuan yang dicapainya hingga saat ini. Namun dunia berubah secara dramatis, begitu juga dengan Asia