Label

21 wasiat Sultan untu Aceh (2) 49 tahun IAIN Araniry (2) aceh (4) Aceh Barat (2) aceh history (1) aceh kode (2) aceh tengah (3) Aceh Tourism (2) Adat Aceh (3) agama (18) Air Bersih (2) anehnya negeriku indonesia (3) anggaran nanggroe aceh (1) APBA (5) apresiasi serambi indonesia (1) arsip (1) artikel hanif (71) artikel nabil azra (1) artikel rini (3) Artikel Serambi (9) artikel serambi-tokoh sastra melayu (2) artikel Tanah Rencong (1) artikel/opini Modus Aceh (1) arundati roy (1) bahan buku (70) bahan buku. (6) bahasa (2) bencana alam (6) berita nabil (1) berita serambi (1) bill gates (1) birokrasi (1) Blogger Competition 2017 (1) Blogger Indonesia (1) BP2A (1) budaya (81) budaya aceh (12) budaya massa (1) budaya tradisional (2) buku (2) bumi (1) bumi kita (1) bumi lestari (2) bumiku satu (1) cerpen (1) child abuse (1) climate change (3) CSR (1) Cut Nyak Dhien (1) Dana Hibah (2) dayah (3) demam giok (1) Democrazy? (5) demokrasi (7) demokrasi aceh (6) diaspora (1) dinasti politik (2) DPRA (1) drive book not cars (2) earth hour (2) earth hour 2012 (2) Ekonomi (35) Ekonomi Aceh (42) ekonomi biru (1) ekonomi Islam (5) essay (1) essay nabil azra (1) Film (5) Film animasi (1) film drama (3) filsafat (2) forum warga kota (1) forum warung kopi (1) FOTO ACEH (2) gam cantoi (2) gambar (1) gempa (2) gender (3) goenawan mohamad (1) gubernur (1) guiness book of record (1) guru (1) hacker cilik (1) Hadih Maja (1) hari Air Sedunia (3) hari bumi (2) Hari gizi (1) hasan tiro (1) hemat energi (1) Hikayat Aceh (2) hobbies (1) HUDA (1) hukum (2) hutan indonesia (5) ideologi (1) idul fitri 2011 (1) iklan (1) Iklan Bagus (2) Indonesia city Expo 2011 (1) intermezo (5) internet dan anal-anak (1) investasi (1) investasi aceh (1) islam itu indah (3) IT (4) kalender masehi (1) kampus unsyiah (4) karakter (1) Kebudayaan Aceh (7) kedai kupi (1) kedai-kopi (1) Kedokteran (1) kedokteran Islam (1) kelas menulis SMAN 5 (4) kelautan (4) keluarga berencana (1) Keluarga Ring Of Fire (1) kemiskinan (2) kemukiman (2) kepemimpinan. (1) kepribadian (1) Kepribadian Muslim (1) kerajaan Aceh (2) kesehatan (7) kesehatan anak (4) keuangan aceh (1) khutbah jumat (1) Kisah (1) Kisah Islami (1) KKR (2) koleksi buku bagus (3) koleksi foto (2) koleksi tulisanku (1) Komunikasi (1) komunitas-serambi mihrab (1) konsumerisme (1) kopi aceh (2) kopi gayo (1) kopi libri (1) Korupsi (6) korupsi di Aceh (4) kota masa depan (1) kota yang hilang (1) KPK (1) kriminal (1) krisis air (2) ku'eh (1) Kuliner Aceh (1) kultum (2) kurikulum 2013 (1) lain-lain (1) lalu lintas (1) lambang dab bendera (4) laut (1) Library (1) Library Gift Shop (2) Lingkungan (40) listrik aceh (1) Lomba artikel 2016 (4) Lomba blog 2016 (2) Lomba Blogger Unsyiah (1) LSM-NGO (3) magazine (1) manajemen (2) manusia (1) marginal (1) Masyarakat Urban. (1) maulid (1) Media (1) mesjid baiturahman (2) Meulaboh (1) migas (1) mimbar jum'at (1) mitigasi bencana (4) More Than Just A Library (2) mukim (2) museum (2) museum aceh (2) Museum Tsunami Aceh (4) music (1) Music show (1) musrenbang (1) narkotika (1) naskah asli (3) Naskah Kuno Aceh (2) nelayan (1) Nubuah (1) off road (1) olahraga (2) opini aceh tribun (2) opini harian aceh (4) Opini Harian Waspada (1) opini kompasiana (2) opini lintas gayo (10) opini lintas gayo com (1) opini LintasGayo.co (2) opini majalah tanah rencong (1) opini nabil azra (1) opini serambi (43) opini serambi indonesia (123) opini siswa (4) opini tabloid lintas gayo (5) Pariwisata (3) parlemen aceh politik aceh (1) pawang (1) Peluang Pasar (1) pembangunan (24) pemerintah (4) pemilu 2014 (5) pemilukada (9) Pemilukada Aceh (13) penddikan (2) pendidikan (19) pendidikan Aceh (22) penyair aceh (1) Perbankan (3) perbankan islam (3) perempuan (8) perempuan Aceh (5) perempuan dan ibu (1) perempuan dan politik (2) perikanan (1) perpustakaan (1) perputakaan (1) personal (2) personal-ekonomi (1) pertanian (2) Pesta Demokrasi (1) pilkada (14) PKK Aceh (1) PNS (1) polisi (1) politik (93) politik aceh (145) politik KPK versus korupsi (4) politik nasional (1) politk (4) Polri (1) poster. (1) PROFIL (1) psikologi (2) psikologi anak (1) psikologi pendidikan (1) PUSA (2) qanun (1) ramadhan (1) Ramadhan 2011 (4) ramadhan 2012 (2) rawa tripa (1) reformasi birokrasi (1) Resensi buku (3) Resensi Buku hanif (2) resensi film (2) resensi hanif (2) review buku (1) rohingya (1) RPJM Aceh (3) RTRWA (2) rumbia aceh (1) sampah (1) satwa liar (1) sejarah (8) sejarah Aceh (28) sejarah Aceh. (3) sejarah dunia (1) sejarah-bahasa (5) sekolah terpencil (1) Sineas Aceh (2) Sinema Aceh (2) sosial (11) SOSOK.TOKOH ACEH (3) spesies (1) statistik (1) Stop Bajak Karya Online (1) sultan iskandar muda (1) syariat islam (6) tahun baru (1) tambang aceh (1) Tata Kelola pemerintahan (3) tata kota (2) TDMRC (1) tehnologi (5) televisi (1) Tenaga kerja (2) Thriller (1) timor leste (1) tips (3) tokoh dunia (1) tokoh kartun serambi (2) tradisi (2) tradisi aceh (2) tradisional (1) tsunami (8) Tsunami Aceh (9) Tsunami story Teller (2) tulisan ringan (1) TV Aceh (1) tv dan anak-anak (3) ulama aceh (7) Unsyiah (1) Unsyiah Library (2) Unsyiah Library Fiesta 2017 (2) ureung aceh (1) Visit Aceh (2) Visit Banda Aceh (7) Visit Banda Aceh 2011 (4) walhi goes to school (1) wali nanggroe (3) walikota 2014 (1) warung kupi (1) wirausaha aceh (1) Wisata Aceh (5) wisata spiritual (2) youtube (1)

Minggu, 14 Mei 2017

“Hadiah intelektual” Abu Panton

by hanif sofyan

Judul: Resolusi konflik dalam islam;
         kajian normatif dan historis perspektif ulama dayah
Pengarang: Tgk.H. Ibrahim Bardan [Abu Panton]
Editor: Hasan Basri M.Nur
Penerbit: Aceh Institute Press
Hal:xxxii+166 hlm; 14,2x21 cm

Kehadiran buku sederhana ini, setidaknya bakal menyemangati “Dunia Dayah” untuk lebih “melirik” persoalan-persoalan Aceh terkini. Tak khusus hanya menyorot soal meudamee [perdamaian],yang hingga hari ini--pun, masih terus “berjibaku” kita jaga. Kelak banyak persoalan akan menjadi kajian para tengku, di balee meunasah bersahaja.

Tahun 1953, menandai titik balik bagi seorang Abu Panton. Sebuah babak baru setelah puluhan tahun konflik menjadi “jeda” dan matinya tradisi “daras keilmuan dayah”. Babak ini penting, mengingat tahun-tahun tersebut merupakan tahun kelam. Sekedar menjadi guru saja, orang kehilangan “nyali”, konon lagi jadi tengku dayah, nanti malah disangka "cuak". Pilihan amannya cuma,“golput”; meminjam istilah Abu untuk tidak memilih keduanya, karena bahaya imbas konflik. 

Kelam militer, konflik, kekerasan, perseteruan yang tak berujung dan tak pernah berhenti sejak perang Aceh ratusan tahun lalu, kemudian menggugah Abu untuk memulai bahasan buku “sederhana” ini.

Sabtu, 13 Mei 2017

Back To Real "GREEN"

by hanif sofyan


Kenapa harus "green"?, kenapa nggak black or white?.
Kecenderungan saat ini dalam banyak aspek mulai dari produk, hingga management "mengenakan" baju green, meskipun green pada akhirnya juga cenderung menjadi "black"?. Green metropolis, green product, green mining, green management, green vision, green living, bahkan Aceh Green, pada akhirnya hanya hijau pada lembaran uang, tapi tidak hijau pada realitas.


Melalui buku terbarunya, Ecological-Intelligence-Knowing-Impacts-Everything ; Daniel Goleman berbagi kisah dengan kita bagaimana visi hijau, hari ini menjadi "bahan mainan baru" bagi keberhasilan proses baik politik maupun marketing. Me-marketing-kan Green sebagai isu ramah dan peduli, namun maksud sesungguhnya adalah profit oriented. Mainan baru ini tentu berbahaya, bagi "maksud baik" yang sesungguhnya untuk lebih ramah dengan bumi. Jika kebohongan ini terkuak dan orang tak lagi percaya pada "Green" yang sesungguhnya, ini akan mengganggu proses dan hasil pada terbangunnya kesadaran tentang bumi yang lebih baik melalui konsep green dalam apapun bentuknya.

Politik Jarak Jauh Diaspora Aceh, Suatu Gambaran Tentang Konflik Separatis di Indonesia



review oleh hanif sofyan-acehdigest
10 April 2017 | 21:52

Penulis : Antje Missbach
Tebal : 396 hlm
Ukuran : 15 x 23 cm
Penerbit : Ombak

Bukan cuma cinta biasa yang mengenal long distance relationship, bahkan kerinduan akan sebuah nanggroe-menyebut aceh dalam nuansa ‘meuaceh’, muncul dalam format politik yang kompleks.

Kisah Aceh memang sangat panjang berliku, sejak perang tanpa henti melawan agresi Belanda yang berdurasi: 31 tahun (1873-1904), lalu konflik beralih rupa dengan pemerintahan pusat sendiri, lalu diam-diam dalam nanggroe sendiri juga bertumpang tindih silang pendapat soal siapa yang mesti muncul sebagai ‘pemilik’ nanggroe sesungguhnya. maka perang merujuk eksistensi parapihak itu berlanjut dan menjadi bahagian dari kesejarahan.

Damai Aceh; Jangan Ada Dusta Antara Kita

hanif sofyan-opini serambi indonesia
http://aceh.tribunnews.com/2013/08/13/damai-aceh-jangan-ada-dusta-di-antara-kita
MEMBACA buku The Idea of Indonesia yang ditulis RE Elson, seperti menelanjangi peristiwa politik faktual di Aceh hari ini. Mengutip pernyataan diplomat dan politikus kawakan, almarhum Sudjatmoko: “Ketika tidak ada kemajuan yang tercapai setelah kemerdekaan, orang mulai kembali kepada sikap dan pola pikir tradisional, yang muncul ketika cita-cita revolusi memudar. Dengan demikian, muncul kembalilah antagonisme suku, karena lapisan nasionalisme terlalu tipis untuk dapat menutupinya.” Persoalan lambang dan bendera meskipun tidak kasat mata, mewakili sebuah benih kekhawatiran Sudjatmoko atas ketidakpuasan yang tersimpan lama dalam ‘sekam’.

Begitupun dalam menyikapi soal lambang dan bendera. Dan jika membaca fenomena saat ini di Aceh, ada sebuah pertanyaan menggelitik yang mungkin jadi pertanyaan banyak orang. Jika soal lambang dan bendera, pernah dibicarakan dalam beberapa sesi pertemuan antara pemerintah Aceh dan Jakarta, dan juga pernah didiskusikan dalam forum yang dihadiri oleh parlok dan parnas dengan segala konsekuensi politisnya, mengapa masih menjadi kontradiksi? Apakah ada mekanisme salah yang ditempuh sehingga persoalan harus keluar dari “ruang parlemen” dan masuk ke ranah publik lalu menjadi polemik terbuka?

Jumat, 12 Mei 2017

Jurnalisme Perdamaian Aceh

[Merawat Damai Aceh dengan Menulis]
oleh hanif sofyan-opini serambi indonesia
http://aceh.tribunnews.com/2015/08/15/merawat-damai-aceh-dengan-menulis
http://www.acehtrend.co/jurnalisme-damai-aceh/
DALAM senarai kumpulan essay Geunap Aceh; Perdamaian Bukan Tanda Tangan dinukilkan, satu kebiasaan Hasan Tiro yang menarik adalah rutinitasnya membuat catatan kecil di bukunya tentang segala hal yang dijalaninya hari per hari. Seperti dituturkan Nazamuddin Basyah Said, menulis bagi seorang Hasan Tiro, ternyata menjadi senjata yang lebih ampuh dari senapan mesin. Tulisan menjadi catatan sejarah bagi generasi selanjutnya, sekalipun seringkali bersifat subjektif, tetapi pengaruhnya pada pembentukan opini masyarakat jauh lebih besar dari senjata dalam bentuk fisik dan segala indoktrinasi yang dipaksakan. Tulisan dapat menanamkan ideologi dan kecintaan pada sesuatu.

Menulis dalam perkembanganya juga mengalami apa yang disebut asimilasi-mengikut zaman dan sikon. Tulisan di ranah perpolitikan Aceh, mewujud dari political journalism, yang mewartakan gerak dan laku politik yang mewakili arah diplomasi antar pihak. Lalu dalam babak berikutnya, di era pra Darurat Militer (DM) 1999-2002, berasimilasi menjadi talking Journalism, jurnalisme yang berkata-kata.

Senin, 17 April 2017

Remaja 15 Tahun Temukan Kota Bangsa Maya yang Hilang

Seorang bocah laki-laki berusia 15 tahun menemukan Kota Bangsa Maya yang hilang menggunakan foto satelit dan astronomi Bangsa Maya.

Bocah tersebut bernama William Gadoury dan berasal dari Quebec. Ia berteori bahwa peradaban Maya memilih lokasi kota-kota mereka sesuai dengan konstelasi bintangnya.

William menemukan kota Maya segaris dengan bintang di rasi bintang utama peradaban. Setelah mempelajari peta bintang lebih jauh, William menemukan satu kota yang telah hilang dari rasi tiga bintang.

Menggunakan citra satelit yang disediakan oleh Badan Antariksa Kanada yang kemudian dipetakan ke Google Earth, ia menemukan kota di lokasi yang ditunjukkan oleh bintang ketiga dari rasi tersebut.

Melihat Sampah yang Menumpuk di Orbit Bumi selama 60 Tahun

https://www.students.id/melihat-sampah-yang-menumpuk-di-orbit-bumi-selama-60-tahun/

Sampah bukan hanya menjadi masalah di Planet Bumi, namun juga di luar angkasa. Untuk melihat jumlah sampah yang mengambang di atas sana, ilmuwan Stuart Grey dari University College London membuat video animasi dengan menggunakan data lokasi tiap kepingan sampah dari situs space-track.org.

Semenjak eksplorasi luar angkasa pertama pada 1957, dimana satelit Sputnik 1 diluncurkan oleh Rusia (dahulu Uni Soviet), bukan hanya menandai era luar angkasa telah lahir, namun juga budaya membuang sampah ke luar angkasa.

Sejak saat itu, angkasa jadi dipenuhi oleh benda-benda yang mengorbit. Satelit-satelit yang sudah tidak berfungsi masih menggantung di atas sana, selain komponen roket dan pecahan-pecahan lain.

Pada Juni 1961, Ablestar juga meluncurkan satelit Transit 4A yang akhirnya juga meledak di luar angkasa, menambah 300-an pecahan-pecahan sampah yang mengambang.