Minggu, 28 Juli 2024

Proyeksi Ekonomi Sirkular, Bulkstore Dan Aksi Nyata Sustainable Laundry

by hanif sofyan-acehdigest

sumber ilustrasi-facebook GAIA

Sejak Albert Arnold Gore Jr memenangkan Nobel Prize bersama Intergovernmental Panel On Climate Change yang mewacanakan perubahan iklim melalui film dokumenter An Inconvenient Truth (2006), gagasan membangun dan menyebarluaskan pengetahuan tentang perubahan iklim menggelembung menjadi isu baru dunia.

Mengejar target penurunan emisi dan menjaga suhu bumi di bawah 1.5 derajat celcius sesuai Persetujuan Paris 2015, banyak negara sudah mulai memberlakukan carbon pricing (tarif emisi karbon). 

Sementara itu upaya menjaga kelangsungan konsumsi energi fosil-migas, menjadi sangat dilematis. Persoalan latennya tidak lain, pertumbuhan demografi, dan implikasi konsumsi energi yang bertambah di sektor dominan transportasi, industri, rumah tangga, publik, dan bisnis.

Selain itu persoalan tata kelola limbah, ekonomi sirkular yang berjalan stagnan, sehingga pekerjaan rumah kita tak lagi hanya sekedar memikirkan bagaimana beralih dari brown energy ke green energy. Tantangan lain adalah bagaimana mengupayakan zero waste sebagai solusi alternatif lainnya untuk menjaga bumi.

Dalam menyelesaikan persoalan tersebut, Global Alliance for Incinerator Alternative (GAIA) dan lembaga-lembaga jaringannya di seluruh dunia seperti Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan (YPBB) menginisiasi sebuah solusi yang disebut dengan Solusi Zero Waste.

Zero Waste mendorong sebuah wilayah untuk melakukan pemilahan sampah dari sumber dan pengomposan yang terbukti dapat mengurangi emisi gas rumah kaca serta merupakan solusi nyata yang perlu diprioritaskan dan dikampanyekan pada masyarakat luas.

Ekonomi Sirkular Melawan Sampah

Dari berbagai penyebab pemanasan global, sampah menjadi salah satu problem krusial. Sampah menyumbang sekitar 20% emisi gas metana yang berkontribusi besar menghangatkan Bumi. 

Sistem produksi dan konsumsi plastik sekali pakai yang saat ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat  juga menjadi penyebab lain yang berdampak besar dalam pemanasan global.


sumber foto-global alliance for incinerator alternative (GAIA)

Green packing, apakah itu yang kita mau ketika belanja online?. Mengganti plastik bubble wrap, boks kayu , bantalan lembar quot, flute kardus--corrugated box, dengan kertas koran sebagai substitusi pengganti limbah plastik, atau material lain yang tidak ramah lingkungan.

Semangat green-nya masih sekedar wujud pendekatan akomodatif dari gagasan bumi lestari dan cara mengambil hati pemilik kebijakan, bukan karena kesadaran sepenuh hati. Padahal kita butuh aksi nyata yang harus berwujud sebuah gerakan.

Jadi apa jalan tengahnya? . Ekonomi sirkular yang berbasis pada penggunaan barang secara berulang, mudah didaur ulang dan tahan lama adalah gagasan yang paling realistis dan harus terus didorong dimasa depan. 

Logika ekonomi sirkular sangat sederhana, semakin awet sebuah barang, jika rusak dapat didaur ulang, memungkinkan kita tidak lagi boros menggunakan material baru. Sampah dapat berkurang secara signifikan, termasuk plastik yang menakutkan tapi justru dominan dalam lingkungan kita!.

Penggunaan plastikpun sebenarnya juga tidak jadi penghalang utama kita, termasuk dalam konsep ekonomi sirkular. Jika diikuti dengan berkembangnya industri daur ulang sampah plastik. Kita harus realistis bahwa ketika kesadaran orang soal sampah masih minus, maka kerja-kerja mendorong pemanfaatan ulang sampah juga harus menjadi domain pemikiran kita.

Bayangkan saja, Pusat Penelitian Oseanografi dan Pusat Penelitian Kependudukan LIPI merilis hasil riset terkait dampak kebijakan pembatasan selama pandemi dan beralihnya orientasi kerja menjadi Work From Homet terhadap sampah plastik di kawasan Jabodetabek dilakukan melalui survei online pada 20 April-5 Mei 2020. 

Hasilnya mayoritas warga Jabodetabek melakukan belanja online yang cenderung meningkat. Dari sebelumnya hanya 1-5 kali dalam satu bulan, menjadi 1-10 kali selama Pandemi.

Penggunaan layanan delivery makanan lewat jasa transportasi online,  96% paket dibungkus dengan plastik yang tebal dan ditambah dengan bubble wrap.  Bahkan 60 % responden berpendapat penggunaan bungkus plastik mengurangi risiko terpapar COVID-19, menjadi sebuah keharusan dilakukan. Nah lho.

Realitas itu artinya bahwa, itu tanda ketergantungan akut kita dengan kemasan berbahan baku plastik. Sesuatu yang rumit di carikan jalan keluarnya, bahkan melalui kebijakan plastik berbayar pun, belum signifikan merubah pola belanja menggunakan material selain plastik.

Alternatif lainnya menggunakan green packing, plastik berbahan nabati yang mudah didaur ulang. Itupun cuma baru bisa dilakukan para retail dan pabrikan besar yang kuat modal, karena bahan bakunya masih mahal.

Melirik Bulkstore

sumber foto-galadiva.com

Bisa dibilang ini termasuk gagasan baru, meskipun ide menggunakan bahan baku ramah lingkungan sebagai komponen pendukung belanja telah dimulai jauh hari.

Zero waste lifestyle merupakan gaya hidup yang mulai dikenal oleh banyak orang. Meskipun mengandung kata “zero” yang berarti nol, bukan berarti gaya hidup ini tidak menghasilkan sampah. Gaya hidup ini mengajarkan kita untuk melihat dan mengevaluasi bagaimana sesuatu yang kita konsumsi agar tidak berdampak negatif terhadap lingkungan.

Masih ingat kan dengan gagasan hierarki sampah merujuk 3R, yaitu Reuse, Reduce, dan Recycle yang mengklasifikasikan strategi manajemen sampah menurut apa yang sesuai. Urutan hierarki sampah dari yang tertinggi ke yang terbawah yaitu pencegahan, pengurangan sampah, penggunaan kembali, daur ulang, penghematan energi, dan pembuangan.

Nah, bulkstore adalah salah satu ide yang muncul dari gaya hidup zero waste yang tidak jauh dari inti gagasan ekonomi sirkular. Bulkstore adalah toko yang sudah menerapkan konsep zero waste. Biasanya produk-produk yang dijual juga ramah lingkungan, berasal dari bahan-bahan alami, dan tidak dikemas dengan kemasan plastik.

Para pembeli yang ingin membeli di bulk store harus membawa tempat belanja sendiri. Misalnya tas reseuble, toples atau tempat belanja lainnya. Intinya selain menjaga lingkungan dari limbah kemasan, adalah kebiasaan mempertimbangkan apa yang kita beli akan mengubah perilaku konsumen. Yaitu mendorong konsumen untuk membeli hanya yang dibutuhkan, artinya mengurangi sampah makanan (food waste).

Sustainable Laundry

sumber foto-dokpri

Aku cukup realistis ketika pada akhirnya memulai gagasan ini, merubah konsep laundry konvensional menjadi “sustainable laundry”. Terus terang idenya memang tidak jauh dari gagasan bulkstore yang gagasan awalnya juga berasal dari ekonomi sirkular. Intinya selain menjaga lingkungan dari limbah berusaha mengubah perilaku konsumen.

Diawal bisnis yang bercampur dengan idealism konsep green business ini, aku merasakan bahwa setiap hari, setiap minggu, hingga per bulannya, penggunaan plastik     sebagai komponen utama dalam bisnis laundry konvensional makin aku rasakan meningkat. Bersamaan dengan tumbuhnya kekuatiran soal limbah.

Kemudian saya mulai merilis gagasan sustainable laundry. Langkah pertama mengkomunikasikan dengan para pelanggan utamanya membership. Menawarkan penggunaan tas daur ulang yang aku beri nama “Monster Bin”—tempat sampah lipat dan bisa ulang pakai layaknya seekor monster yang bisa melahap apa saja.

Aku menawarkan layanan bantuan cuci gratis tas daur ulangnya sebagai daya tarik tambahan. Berikutnya adalah menggunakan alternatif packing dengan menggunakan kertas Koran.

Tidak diduga gagasan ini direspon sangat positif. Intinya bahwa gagasanku untuk sampai pada zero waste-sebagai aksi nyata ekonomi sirkular berjalan tanpa rintangan.

Setidaknya ini adalah bentuk kontribusi nyata paling sederhana yang bisa aku lakukan. Ketika aku berusaha menggabungkan apapun jenis bisnis dengan konsep green-zero waste yang aku pahami secara sederhana.

Sekecil apapun tindakan kita akan memberi kontribusi positif. Bagaimana jika kelak gagasan ini menjadi sebuah gerakan bersama. Gerakan yang mengajarkan kearifan lokal kepada alam, dengan mengubah mindset agar menjadi sebuah kesadaran baru.

referensi:

https://drive.google.com/file/d/1gnR5P61KCJMh61D3pBrb2Xc-ldeDold4/view

https://zerowaste.id/zero-waste-lifestyle/toko-dengan-konsep-zero-waste-lifestyle/

https://money.kompas.com/read/2022/02/24/212839926/azwi-menuju-zero-waste-cities-pemerintah-harus-atur-ketat-produksi-plastik-dan?page=all

https://money.kompas.com/read/2023/01/13/100000026/ekonomi-sirkular-jadi-solusi-capai-target-zero-waste-pada-tahun-2050?page=all

https://www.ypbb.web.id/kota-bandung-menuju-zero-waste-cities/https://www.ypbb.web.id/kota-bandung-menuju-zero-waste-cities/

https://www.kompasiana.com/www.acehdigest.com/62e6a9433555e4331f55d344/presidensi-g20-transisi-energi-dan-peta-jalan-dekarbonasi-indonesia?page=5&page_images=1

https://www.kompasiana.com/www.acehdigest.com/621395d8bb44864c470e23e2/biarkan-tren-packing-menggurita-kita-ber-ekonomi-sirkular-saja?page=all


Tidak ada komentar:

Posting Komentar